Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Daerah  

220 Relawan Pendidikan Universitas Muhamadiyah Maumere Turun Gunung Bantu Korban Erupsi Gunung Api Lewotobi Laki-laki

Relawan pendidikan Unimof melaksanakan Kegiatan belajar mengajar sekaligus trauma Healing bersama peserta didik yang terdampak Erupsi Gunung Lewotobi laki-laki pada sore hari di Posko MDMC

Maumere, Mensanews.com-Relawan Universitas Muhamadiyah Maumere kembali turun gunung membantu para korban bencana letusan gunung api lewotobi laki-laki di kecamatan Wulanggitang, kabupaten Flores Timur NTT, 10 Januari 2024.

Selain mengirimkan bantuan sembako kepada para korban erupsi gunung berapi Lewotobi laki-laki, Universitas Muhamadiyah Maumere juga menurunkan tim relawan pendidikan (trauma healing) .

Tim relawan trauma healing yang dikirim ke lokasi pengungsian sebanyak 220 orang yang dibagi dalam bentuk kelompok setiap kelompok terdiri dari 20 orang dan dalam setiap kelompok mendapat alokasi waktu 3 hari sejak dilepas rektor universitas Muhamadiyah Maumere Erwin Prasetyo pada tanggal 8 Januari 2024 .

Baca Juga :  Bupati Simon Nahak Apresiasi Kecerdasan Generasi Milenial Malaka

Rektor Universitas Muhammadiyah Maumere, Erwin Prasetyo mengatakan, untuk membantu adik-adik pelajar SD, SMP dan SMP yang menjadi pengungsi di posko pengungsian Kecamatan Wulanggitang, pihaknya mengirimkan sebanyak 220 relawan pengajar.

220 relawan pengajar ini akan dikirim secara bertahap dimana akan dikirim per tahap 20 relawan pengajar.

Lanjutnya, 20 relawan pengajar ini akan mengajar anak-anak di posko pengungsian selama 3 hari. Kemudian akan berganti dengan 20 relawan berikutnya.

“Kloter pertama kita kirim 20 relawan, nanti kita coba untuk 3 hari saja. Nanti balik ada kelompok berikutnya kesana. Situasi ini kita pantau terus,” ujarnya.

Baca Juga :  Kementerian Kominfo Bertekad Percepat Pembangunan Infrastruktur Telekomunikasi di NTT

“Di Kecamatan Wulanggitang ini banyak posko yang dibuat. Jadi ade-ade tidak usa kuatir. Kita tetap melaksanakan kegiatan membantu adik-adik kita yang masih SD,SMP, SMA untuk tetap punya semangat bertahan hidup dan semangat terus belajar. Kondisinya disesuaikan belajar di pengungsian,” tambahnya.