Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Satu Jam Bersastra Bersama Bung Darko Di Bumi 7 Maret

Lembata, Mensanews.com- Masyarakat pecinta sastra di Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur, siapa yang tak kenal Bung Darko Making? Pria kelahiran Desa Lewotolok – Ile Ape, dengan nama lengkap Darius Baki Akamaking tersebut, belakangan ini benar-benar telah menyulap  dirinya sebagai seorang sastrawan yang sangat terkenal di Kabupaten Lembata. Di mana saja, hampir di setiap moment, entah formal maupun non formal, Bung Darko senantiasa tampil dengan karya-karya sastra terbaiknya.

Cerpen, puisi-puisi gaya lama, puisi-puisi gaya baru, opini, berita dan sejenisnya merupakan lahapannya sehari-hari. Tidak terbilang, sudah barapa banyak karya sastra yang dihasilkan oleh Bung Darko. Padahal, jika ditelusuri background pendidikannya, ternyata Bung Darko, bukan merupakan seorang lulusan Bahasa atau pun Sastra. Beliau ternyata seorang jebolan Sarjana Kesehatan Masyarakat (FKM), Universitas Nusa Cendana – Kupang.

Hari ini, Bung Darko sukses menaburkan benih-benih sastra kepada seluruh siswa SMPN 7 Maret Hadakewa. Kehadirannya sangat dinanti-nantikan oleh seluruh siswa dan guru. Begitu dipersilahkan untuk berbicara, Bung Darko langsung spontan berlari ke tengah ruangan dan mulai membacakan puisi-puisi karya terbaiknya, yang diangkat dari buku antologi karya sastra yang baru  saja dilaunching dengan tema Tahkta Para Raja.

Baca Juga :  Rencana Bangun Sasana Tinju, Bupati Malaka, KONI NTT dan Pertina Gelar Pertemuan Khusus

Seisi ruangan langsung terhipnotis oleh piawainya seorang Bung Darko membawakan deretan puisi-puisi terbaiknya. Para siswa berteriak histeris sambil memberikan “standing applause” kepada Bung Darko sebagai bentuk apresiasi yang sangat luar biasa. Ketiga Puisi terbaik yang dibacakan Bung Darko antara lain Punya Aku Dua Merpati, Pelita Tiada Pernah padam, Puisiku Belum Mati.

Tidak mau kalah dengan sang satrawan, salah satu siswi terbaik SMPN 7 Maret, Elma Ruing berani tampil ke depan dan dengan berani membacakan puisinya berjudul Pandemi Belum Berakhir. Untuk diketahui, puisi yang dibacakan Elma merupakan sebuah puisi yang telah terbit bersama antologi Puisi karya siswa SMPN 7 Maret di awal masa Pandemi lalu.

Baca Juga :  Bupati Malaka: Berbagi Sukacita Dan Damai Natal

Dalam pemaparan materinya, Bung Darko memberikan banyak motivasi dan pesan kepada seluruh siswa. Baginya, Sastra adalah pengobat lelah. Oleh sebab itu, barang siapa yang hidup bersama sastra, akan jauh dari setiap keluhan hidup.

“Sastra itu serupa obat penyembuh lelah. Hidup ini banyak masalah. Masalah dengan diri sendiri, masalah dengan orang lain, masalah di rumah, di sekolah, di tempat kerja dan sebagainya. Bagi seorang sastrawan, masalah itu cuman bertahan seperti lamanya setetes embun di atas dedaunan. Setelah fajar menyingsing embun pun menguap. Masalah pun selesai. Jiwa kembali tentram dan aman,” ujarnya.