Bagi Jumihar, keberadaan rutan tidak seharusnya dipandang semata-mata sebagai tempat menjalani hukuman atau ruang yang menakutkan. Di dalamnya, terdapat proses pembinaan yang bertujuan mendorong warga binaan memperbaiki diri dan mempersiapkan kehidupan yang lebih baik setelah kembali ke tengah masyarakat.
Ia mengajak masyarakat untuk tidak selalu memandang rutan sebagai tempat yang menyeramkan. Menurutnya, pendekatan pembinaan perlu mengedepankan penghormatan terhadap martabat manusia, tanpa mengabaikan aturan dan tanggung jawab.
“Masyarakat jangan beranggapan bahwa masuk ke rutan itu berbahaya atau seram. Di dalam rutan, kami akan memanusiakan manusia,” tegasnya.
Ia berharap pendekatan yang mengedepankan nasihat, komunikasi, dan kegiatan positif dapat membantu warga binaan melakukan introspeksi serta memahami pentingnya tidak mengulangi kesalahan yang pernah dilakukan.
Dalam proses pembinaan, pendekatan yang manusiawi juga menjadi pengingat bahwa setiap warga binaan tetap memiliki kesempatan untuk berubah dan memperbaiki masa depannya.
Karena itu, Jumihar menekankan pentingnya menghindari pendekatan kasar dalam berinteraksi dengan warga binaan. Pembinaan, menurutnya, harus dijalankan melalui cara-cara yang menghormati martabat manusia dan mendorong perubahan perilaku.
Pembagian me ayam dalam kegiatan Jumat Berkah bukan sekadar menghadirkan hidangan bagi warga binaan. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun suasana kekeluargaan dan menunjukkan perhatian terhadap mereka yang sedang menjalani proses pembinaan.
Dipadukan dengan Zumba, karaoke, serta fasilitas olahraga yang tersedia, kegiatan ini menghadirkan kesempatan bagi warga binaan untuk menikmati aktivitas positif di tengah keterbatasan ruang gerak.
Meski demikian, keberhasilan pembinaan tidak hanya diukur dari suasana gembira saat kegiatan berlangsung. Konsistensi program, penghormatan terhadap hak warga binaan, pembinaan kepribadian, serta kesiapan untuk kembali ke masyarakat tetap menjadi bagian penting dari proses pemasyarakatan.
Melalui pendekatan yang lebih humanis, Rutan Kelas IIB Kupang berupaya membangun lingkungan pembinaan yang tidak hanya menekankan kedisiplinan, tetapi juga membuka ruang bagi perubahan dan pemulihan diri.
Jumat Berkah pun menjadi pengingat bahwa di balik tembok rutan, pembinaan tetap dapat berlangsung melalui kepedulian, kebersamaan, dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.










