KUPANG, Mensanews.com- Kreativitas pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali mendapat panggung. Bukan sekadar pameran produk, Flobamorata Creative Expo (FCE) 2026 disiapkan menjadi ruang untuk mengubah kekayaan lokal menjadi kekuatan ekonomi yang bernilai dan berkelanjutan.
Mengangkat tema “Flobamorata Berkarya, Menuju Perekonomian Berdaya dan Berkelanjutan”, kegiatan yang digelar Bank Indonesia (BI) Perwakilan NTT tersebut akan berlangsung pada Oktober 2026 di halaman Lippo Plaza Kupang.
FCE 2026 akan mengangkat tiga kekuatan utama ekonomi kreatif NTT, yakni wastra, kopi dan kuliner. Ketiganya menjadi representasi kekayaan budaya sekaligus potensi ekonomi daerah yang dapat terus dikembangkan melalui inovasi, peningkatan kualitas dan perluasan akses pasar.
Lebih dari sekadar memajang produk, FCE 2026 diarahkan untuk mempertemukan kreativitas UMKM dengan peluang pasar. Pelaku usaha didorong tidak berhenti pada kemampuan memproduksi, tetapi juga mampu memperbaiki kualitas, membangun kemasan dan identitas produk, melakukan inovasi, serta membaca kebutuhan konsumen.
Lima Kali Digelar, FCE Terus Dikembangkan
Kepala Perwakilan BI Provinsi NTT, Adidoyo Prakoso, mengatakan Flobamorata Creative Expo telah digelar sebanyak lima kali dan terus mengalami pengembangan.
Menurutnya, setiap penyelenggaraan FCE menjadi ruang untuk memperkenalkan beragam produk kreatif masyarakat NTT, mulai dari tenun atau wastra, kopi hingga kuliner.
“FCE sudah lima kali digelar. Kami ingin UMKM menjadi naik kelas di NTT. Kita ingin meningkatkan kapasitas UMKM yang ada,” ujar Adidoyo dalam kegiatan Sasando Dia Sante-Sante Duduk ba Ngomong deng meDia, Selasa (22/9/2026), di Resto Suba Suka, Kelapa Lima, Kota Kupang.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pengembangan UMKM tidak cukup hanya dengan menghadirkan ruang promosi. Dibutuhkan proses yang lebih panjang untuk membangun kapasitas pelaku usaha agar produk lokal mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
FCE 2026 menjadi salah satu instrumen untuk mempertemukan aspek kreativitas, budaya dan ekonomi dalam satu rangkaian kegiatan.
Es Krim Kulit Pisang, Bukti Limbah Bisa Bernilai Ekonomi
Salah satu inovasi yang menarik perhatian dalam pengembangan UMKM NTT adalah produk es krim berbahan kulit pisang dari Kabupaten Belu.
Produk tersebut menunjukkan bagaimana kreativitas dapat mengubah bahan yang selama ini dipandang sebagai limbah menjadi produk yang memiliki nilai tambah.
Bagi pengembangan ekonomi kreatif, inovasi semacam ini memiliki arti penting. Potensi lokal tidak harus selalu hadir dalam bentuk bahan mentah. Dengan kreativitas, teknologi pengolahan dan kemampuan membaca peluang pasar, bahan sederhana dapat dikembangkan menjadi produk baru.
“Kami ingin UMKM menjadi naik kelas di NTT. Kita ingin meningkatkan kapasitas UMKM yang ada,” kata Adidoyo.
Inovasi es krim kulit pisang dari Belu menjadi gambaran bahwa agenda pengembangan UMKM tidak hanya berbicara tentang produk yang sudah dikenal, tetapi juga membuka ruang bagi lahirnya produk-produk baru berbasis potensi daerah.
Wastra, Kopi dan Kuliner Jadi Wajah FCE 2026
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.










