Sambungnya, bahkan di dalam surat Bupati Malaka terakhir yang ditujukan kepada sekolah-sekolah itu untuk tidak melakukan secara tatap muka langsung untuk sementara waktu. Yang dilakukan itu sistem pembelajaran Daring. Dimana Guru-guru mengunjungi siswa ditempat yang sudah ditentukan dengan jumlah siswanya terbatas.
“Untuk sekolah tatap muka langsung di Sekolah, kita tutup untuk sementara demikian juga kegiatan di tempat-tempat ibadah seperti di Gereja, Masjid, Pura dan lain-lain sejenisnya yang menjadikannya sebagai tempat ibadah. Khusus untuk tempat ibadah itu untuk kita dari Kristen Katolik sejalan dengan surat Gembala yang dikeluarkan oleh Bapak Uskup”, ungkap Gabriel.
Dikatakan bahwa dalam surat Bupati Malaka, melarang dengan tegas, segala bentuk aktivitas yang menimbulkan kerumunan seperti pesta, baik pesta adat perkawinan, pesta resepsi perkawinan, pesta rumah adat, pesta syukur wisuda, pesta permandian, sambut baru dan sejenisnya saat ini kita tutup.
Sedangkan diberlakukan pembatasan-pembatan pada aktivitas lainnya termasuk pasar, aktivitas baik toko-toko kelontong, toko-toko pakaian diberlakukan pembatasan mulai dari jam operasional dengan pembatasan jumlah pembeli yang masuk ke setiap toko dengan penerapan protokol Covi-19 secara ketat, tertib dan disiplin.
Dalam penanganan covid-19 Pemda bersinergi dengan TNI POLRI dalam mengawal PPKM sesuai surat arahan Bupati Malaka, yang intinya meningkatkan penjagaan di 3 posko perbatasan Lamea, Takimetan dan Nurobo, serta mengaktifkan posko desa, menutup aktivitas di tempat Ibadah, dan hanya dapat dilakukan secara daring dan KBM tidak dapat dilakukan secara tatap muka, dan pemberlakuan terhadap pasien non Covid-19 hanya 1 x 24 jam saja.
Jadi saya rasa kalau Pemda Malaka tidak punya nurani itu pernyataan sepihak yang tidak berlogika karena kami sudah berupaya semaksimal mungkin kalau menurut dia (Forum) pendekatan sosial yang harus ada nurani itu yang bagaimana?
“Sampai tadi saja kita masih berupaya untuk pendekatan ke masyarakat kita yang secara protak ada kontak langsung dengan pasien yang dinyatakan positif kita lakukan triping misalnya tadi di Fahiluka, kemarin juga di Fahiluka. Masyarakat yang berupaya masuk di pintu masuk kita melakukan pendekatan supaya Bapak Ibu di tes, diperiksa agar kita dapat memastikan Bapak, Ibu itu terdeteksi covid-19 atau tidak. Kalau yang positif ya kita lakukan isolasi. Yang berat kita lakukan isolasi terpusat, yang ringan kita lakukan isolasi mandiri”, jelas Gabriel
“Oleh karena itu, ya saya anggap pernyataan “Forum Diskusi Pemuda Malaka Lawan Covid-19” itu pernyataan sepihak dan mengada-ngada” Tutup Gabriel. (Oll)
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.










