KUPANG, Mensanewa.com– Tiga bulan pasca-beroperasinya jaringan listrik desa di Dusun 1, Desa Pathau, perubahan signifikan mulai mengubah wajah dan urat nadi kehidupan sehari-hari masyarakat setempat. Saat malam tiba, pendar cahaya lampu dari jendela rumah warga kini menggantikan kegelapan. Suara aktivitas masyarakat di malam hari pun mulai terdengar hidup berbanding terbalik dengan kondisi sebelumnya yang sunyi dan gulita. Pemandangan penuh harapan ini terlihat saat Tim PLN Unit Pelaksana Proyek Ketenagalistrikan (UP2K) Kupang menyambangi dusun tersebut pada Senin (15/06).
Dari total 25 Kepala Keluarga (KK) yang menjadi calon pelanggan di RT 01 Dusun 1 Desa Pathau, sebanyak 24 KK di antaranya kini telah menikmati aliran listrik secara mandiri sejak jaringan resmi beroperasi pada 4 Maret 2026 lalu.
Sanubari Pakae, tokoh masyarakat Dusun 1, menyampaikan rasa terima kasih mendalam atas hadirnya PLN di tengah-tengah mereka. Bagi warga, momen ini adalah sejarah besar yang dinantikan lintas generasi.
“Kami mewakili masyarakat Desa Pathau, khususnya Dusun 1 RT 01, menyampaikan terima kasih kepada PLN UIW NTT dan UP2K Kupang yang telah membantu kami melalui jaringan listrik ini. Sejak zaman nenek moyang, orang tua kami, sampai generasi sekarang, kami baru merasakan penerangan di kampung ini. Hari ini, kami di Dusun 1 RT 01 sudah merdeka dari kegelapan,” ujar Sanubari emosional.

Sanubari juga membeberkan efisiensi ekonomi yang sangat kontras pasca-hadirnya listrik. Sebelum ada PLN, warga mengandalkan lampu pelita minyak tanah yang menghabiskan sekitar 12 liter per bulan dengan biaya mencapai Rp120.000,00.
“Setelah listrik masuk, warga cukup mengisi token seharga Rp50.000,00 dan itu bisa digunakan hingga 3 bulan. Ini sangat menekan biaya pengeluaran rumah tangga dan memberi ruang gerak lebih bagi perekonomian kami. Anak-anak juga sekarang bisa belajar malam dengan tenang tanpa batasan gelap lagi,” tambahnya.
Sektor ekonomi kreatif lokal pun langsung bergeliat. Ibu Hawila Ora, salah satu perajin tenun ikat di RT 01 Dusun 1, menuturkan bagaimana listrik mendongkrak produktivitas kerjanya secara drastis.
“Dengan adanya listrik, kami bisa bekerja sampai malam, khususnya untuk mengerjakan tenun ikat. Dulu, pembuatan satu sarung memerlukan waktu satu bulan karena kami hanya bisa menenun di siang hari. Setelah ada listrik, kami bisa menyelesaikan satu sarung hanya dalam waktu dua minggu saja karena bisa bekerja kapan saja; pagi, siang, dan malam,” ungkap Hawila penuh sukacita.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.










