KUPANG, Mensanews.com – Di tengah sorotan terhadap anggaran sekitar Rp1,79 miliar, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memastikan NTT BaSTEL 2026 tidak dirancang sekadar menjadi panggung hiburan untuk memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Provinsi NTT, Drs. Ady Endezon Mandala, menjelaskan bahwa NTT BaSTEL 2026 justru diarahkan menjadi ruang strategis untuk memperkuat nasionalisme, mempublikasikan capaian pembangunan, menggerakkan sektor riil dan UMKM, membangun kolaborasi lintas sektor, sekaligus menghadirkan energi positif bagi masyarakat.
NTT BaSTEL 2026 dijadwalkan berlangsung selama 10 hari, 15–24 Agustus 2026, di Harper Kupang.
“Pameran tersebut digelar dalam momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Namun, pemerintah ingin memastikan semangat kemerdekaan tidak berhenti pada seremoni, upacara maupun hiburan”, Jelas Kadis Ady Endezon kepada media ini, Senin 10 Agustus 2026.
Ada target ekonomi yang hendak dikejar, Ada capaian pembangunan yang ingin diperlihatkan kepada publik,
Dan ada pelaku UMKM yang diharapkan mendapatkan akses pasar lebih luas.
Rp1,79 Miliar dan Pertanyaan tentang Dampak Ekonomi
Besarnya anggaran menjadi salah satu aspek yang tidak dapat dilepaskan dari pembahasan NTT BaSTEL 2026.
Dengan nilai sekitar Rp1,79 miliar, publik tentu memiliki alasan untuk mempertanyakan apa manfaat yang akan dihasilkan dari kegiatan tersebut.
Pemerintah Provinsi NTT memberikan jawaban melalui konsep kegiatan yang menempatkan pameran sebagai bagian dari penggerak aktivitas ekonomi.
Artinya, anggaran kegiatan tidak semata dipandang sebagai belanja untuk panggung dan hiburan, tetapi diharapkan menciptakan efek berantai bagi perekonomian masyarakat.
Salah satu indikator yang digunakan pemerintah adalah evaluasi terhadap kegiatan serupa pada tahun sebelumnya.
Evaluasi yang melibatkan Badan Pusat Statistik (BPS), Bank Indonesia dan Biro Ekonomi disebut menunjukkan aktivitas ekonomi sekitar Rp3,1 miliar dari sektor riil.
Angka tersebut menjadi dasar optimisme bahwa aktivitas selama pameran dapat mendorong perputaran uang melalui transaksi UMKM, perdagangan, jasa dan berbagai kegiatan ekonomi lainnya.
Namun, tantangannya adalah memastikan dampak tersebut benar-benar dirasakan masyarakat dan tidak berhenti selama kegiatan berlangsung.
Sebab ukuran keberhasilan sebuah pameran bukan hanya seberapa ramai pengunjung yang datang, melainkan seberapa besar transaksi tercipta, berapa banyak UMKM memperoleh pasar baru, serta apakah kemitraan usaha dapat berlanjut setelah pameran berakhir.
600 UMKM Berebut Ruang Promosi
Sektor UMKM menjadi salah satu fokus utama NTT BaSTEL 2026. Pemerintah menyiapkan sekitar 200 stan UMKM. Namun jumlah pelaku usaha yang mendaftar disebut mencapai sekitar 600 UMKM.
Kesenjangan antara kapasitas stan dan jumlah pendaftar tersebut memperlihatkan tingginya kebutuhan pelaku UMKM NTT terhadap ruang promosi, pemasaran dan pengembangan jejaring usaha.
Pameran kemudian diarahkan menjadi titik temu antara UMKM dengan konsumen, dunia usaha, perbankan, BUMN maupun mitra potensial lainnya.
Di sinilah NTT BaSTEL 2026 diharapkan memiliki dampak yang lebih panjang.
Pelaku UMKM tidak hanya mendapatkan kesempatan memajang produk, tetapi juga membuka peluang mendapatkan pelanggan baru, mitra distribusi, akses pembiayaan maupun jaringan bisnis.
Jika peluang tersebut berhasil diwujudkan, maka pameran dapat menjadi salah satu instrumen untuk menggerakkan sektor riil NTT.
Sebaliknya, jika seluruh aktivitas hanya berhenti pada transaksi selama sepuluh hari, dampaknya tentu akan lebih terbatas.
Karena itu, keberlanjutan menjadi kata kunci.
115 Booth Jadi Etalase Capaian Pembangunan
Selain UMKM, NTT BaSTEL 2026 juga dirancang sebagai etalase pembangunan Provinsi NTT.
Sebanyak 115 booth disiapkan untuk organisasi perangkat daerah (OPD) tingkat provinsi, instansi vertikal, BUMN, perbankan maupun pihak swasta.
Booth tersebut tidak hanya diarahkan menjadi ruang untuk memajang produk.
Materi yang ditampilkan akan mengangkat berbagai program, kebijakan dan capaian pembangunan selama dua tahun terakhir.
Konsepnya dikemas dalam bentuk success story sehingga masyarakat dapat melihat secara lebih konkret apa yang telah dikerjakan pemerintah maupun mitra pembangunan.
Selain materi pameran, capaian tersebut juga akan dikemas melalui video content positif.
Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari komunikasi publik pemerintah.
Masyarakat tidak hanya datang untuk melihat pameran, tetapi mendapatkan informasi mengenai berbagai program pembangunan yang berlangsung di NTT.
Namun, komunikasi pembangunan idealnya tidak berhenti pada penyampaian keberhasilan.
Ruang publik juga perlu membuka kesempatan bagi masyarakat untuk melihat manfaat nyata dari setiap program.
Dengan demikian, pameran dapat menjadi jembatan antara pemerintah dan masyarakat, bukan hanya etalase program pemerintah.
Nasionalisme Harus Melampaui Upacara
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.










