Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Daerah  

Tiga Rencana Bisnis PT. Flobamor 2026: Bangkit dari Mati Suri, Kejar Laba dan Benahi Warisan Masalah

Reporter : Ollchan
IMG 20260813 WA00091

Artinya, NTT Mart tidak hanya diposisikan sebagai toko atau gerai penjualan.

Konsep yang ingin dibangun adalah ekosistem pemasaran yang dapat mempertemukan produk UMKM NTT dengan konsumen dalam ruang yang lebih terorganisasi.

Untuk memperkuat kualitas produk makanan, PT Flobamor juga merencanakan pengembangan Food Laboratory (Food Lab) melalui kerja sama dengan Uma Kanaru Institute.
Food Lab diarahkan untuk membantu memastikan aspek kualitas dan kehalalan produk makanan UMKM.

Manager UMKM PT Flobamor (Perseroda), Angge Kandidatus, berharap fasilitas tersebut menjadi salah satu pintu bagi produk lokal untuk keluar dari pasar daerah.
“Kami berharap dengan adanya Food Lab, produk asal NTT bisa menembus pasar nasional dan dunia,” ujarnya.

Membenahi Tubuh Flobamor dari Dalam
Di tengah agresivitas rencana bisnis tersebut, manajemen baru menyadari bahwa membangun bisnis baru tanpa memperbaiki persoalan internal hanya akan mengulang sejarah.

Karena itu, restrukturisasi manajemen dan audit terhadap anak perusahaan menjadi agenda penting.

Dalam RUPS pada 20 Januari 2026, struktur perusahaan diarahkan menjadi satu direktur utama dan empat direktur. Pada saat yang sama, dilakukan upaya perampingan terhadap enam anak perusahaan serta audit menyeluruh.
Masalah utama yang hendak dibenahi adalah pola pengembangan usaha pada masa lalu.

Menurut manajemen, sejumlah anak perusahaan sebelumnya dibentuk tanpa didahului feasibility study yang memadai dan belum ditopang tata kelola korporasi yang kuat.

Baca Juga :  Misteri CR7 di Kupang: Ketua Umum KONI NTT Tegaskan Tak Ada Informasi Terkait Kunjungan Cristiano Ronaldo

Akibatnya, modal perusahaan induk terserap, utang meningkat dan kinerja perusahaan semakin terbebani.
Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat Flobamor mengalami masa sulit hingga berada dalam kondisi mati suri.

Kini, Direksi baru mencoba membuka ruang yang lebih luas bagi akademisi dan lembaga riset untuk terlibat dalam penyusunan rencana bisnis.
Direktur Utama PT Flobamor (Perseroda), Dominggus Elcid Li, mengatakan sejumlah rencana bisnis strategis sedang dikaji bersama para peneliti.

“Beberapa rencana bisnis sedang kami buka bersama para peneliti. Ini terkait pembuatan pabrik pakan, pengalengan daging dan ikan, hingga kemungkinan pembuatan galangan kapal. Kami berharap dengan pengetahuan yang memadai, proses industrialisasi di NTT bisa kita jalankan di masa depan,” ujarnya.

Langkah tersebut menunjukkan perubahan pendekatan: bisnis tidak lagi boleh dibangun hanya berdasarkan keberanian investasi, tetapi harus ditopang kajian, perhitungan dan tata kelola.

PR Terbesar: Utang dan Hak Eks ABK
Namun, sebesar apa pun ambisi membangun bisnis baru, Flobamor masih membawa persoalan lama yang belum sepenuhnya selesai.
Salah satunya adalah hak para eks ABK KMP Sirung dan KMP Pulau Sabu yang masih menunggu penyelesaian.
Manajemen mengakui telah melakukan dialog dengan para eks ABK dan serikat pekerja terkait.

Persoalan tersebut tidak bisa diselesaikan sekaligus karena terbentur ketentuan mengenai penggunaan penyertaan modal daerah.
Berdasarkan Perda Nomor 14 Tahun 2025, penyertaan modal yang bersumber dari APBD Provinsi NTT tidak diperkenankan digunakan untuk membayar utang.

Baca Juga :  Hari Kedua Latpam VVIP Kodam IX/Udayana, Mantapkan Pertempuran Jarak Dekat

Karena itu, manajemen menyatakan kewajiban terhadap para ABK akan diselesaikan secara bertahap melalui kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan.

“Mulai tahun ini kami tidak punya pilihan. Flobamor harus untung agar bisa membayar utang kepada para ABK,” tegas Elcid Li.

Manajemen juga menyatakan membuka peluang bagi para eks ABK untuk kembali bergabung dalam anak-anak usaha yang sedang dirintis.
Bahkan, anak-anak eks ABK disebut akan mendapat prioritas apabila memenuhi persyaratan dan melamar pada kesempatan kerja yang tersedia.

“Kami juga memberikan prioritas untuk anak-anak dari para ABK jika ingin melamar, sebagai komitmen kami dalam menjaga ruang penghidupan para ABK dalam masa sulit,” katanya.

Dari BUMD Bermasalah Menuju Lokomotif Ekonomi NTT?
Pada akhirnya, tiga lini bisnis yang dipilih Flobamor Hotel Sasando, KMP Sasando dan NTT Mart akan menjadi ujian awal bagi wajah baru BUMD tersebut.

Ketiganya memiliki karakter berbeda.
Hotel Sasando mengandalkan optimalisasi aset dan pariwisata. KMP Sasando mengandalkan konektivitas sekaligus aktivitas ekonomi masyarakat kepulauan. Sementara NTT Mart diarahkan menjadi saluran pemasaran produk UMKM.

Namun, semua memiliki satu tantangan yang sama: harus menghasilkan bisnis yang sehat.

Flobamor tidak lagi memiliki ruang untuk mengulang pola lama ketika investasi dilakukan tanpa kajian kuat, anak perusahaan bertambah tetapi tidak menghasilkan kinerja optimal, sementara kewajiban perusahaan terus menumpuk.

Baca Juga :  Dua Warga Gangguan Jiwa Sembuh, Kadinsos Malaka; Tidak Terlepas Dari Campur Tangan Tuhan

Karena itu, target tidak defisit pada akhir 2026 bukan sekadar angka dalam laporan keuangan. Target tersebut menjadi pembuktian awal apakah restrukturisasi, digitalisasi keuangan, audit dan pemilihan lini bisnis berbasis aset benar-benar mampu mengubah arah perusahaan.

Bagi karyawan, pelaku UMKM, masyarakat Pulau Semau hingga para eks ABK, keberhasilan Flobamor bukan hanya soal laba perusahaan.
Di balik angka-angka neraca, terdapat harapan agar BUMD milik daerah itu kembali memiliki fungsi ekonomi yang nyata.

Petugas keamanan PT Flobamor (Perseroda), Hendrik Tamonob, berharap perubahan manajemen membawa dampak nyata bagi perusahaan dan para pekerjanya.
“Kami berharap lewat direksi yang baru ini, nasib PT Flobamor dan para karyawan juga bisa jadi lebih baik,” katanya.

Kini tantangannya bukan lagi sekadar menghidupkan Flobamor dari mati suri, tetapi memastikan perusahaan yang telah kembali bergerak itu tidak kembali terperosok ke lubang yang sama.

Hotel Sasando harus kembali menghasilkan. KMP Sasando harus dikelola tanpa kebocoran. NTT Mart harus mampu mengangkat produk UMKM. Dan seluruhnya harus berjalan di atas tata kelola yang lebih disiplin.

Jika tiga agenda tersebut mampu menghasilkan kinerja positif, Flobamor berpeluang mengubah citra BUMD yang selama ini dibayangi persoalan menjadi salah satu lokomotif ekonomi dan sumber PAD bagi NTT.