Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Daerah  

Semangat Sumpah Pemuda, PLN Nyalakan Harapan Keluarga Petani di Maumere Lewat Light Up The Dream

IMG 20261019 WA0087

MAUMERE, MENSANEWS.COM – Setelah lima tahun bergantung pada sambungan listrik dari rumah tetangga, keluarga Fitri Februrosari (30) dan Andreas Oliver Yafet (31), seorang petani di Kelurahan Waioti, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), akhirnya dapat menikmati listrik secara mandiri di rumah mereka sendiri.

Bagi keluarga sederhana ini, kehadiran listrik bukan sekadar bertambahnya fasilitas rumah tangga. Lebih dari itu, listrik menjadi jawaban atas penantian panjang untuk menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih tenang, nyaman, dan leluasa bersama kedua buah hati mereka.

Harapan tersebut terwujud melalui program Light Up The Dream (LUTD) PT PLN (Persero) Unit Pelaksana Pengatur Beban (UP2B) Nusa Tenggara Timur, yang menghadirkan bantuan sambungan listrik gratis bagi keluarga prasejahtera pada Jumat, 16 Oktober 2026.

Momentum menjelang Hari Sumpah Pemuda membuat bantuan tersebut memiliki makna lebih luas. Semangat persatuan, kepedulian, dan gotong royong tidak hanya diwujudkan melalui seruan, tetapi juga melalui tindakan nyata yang menyentuh kehidupan masyarakat.

Selama lima tahun terakhir, Fitri dan keluarganya harus menumpang saluran listrik dari rumah tetangga. Kondisi tersebut membuat penggunaan listrik mereka terbatas, sementara biaya bulanan yang harus dibayarkan tidak selalu pasti.

Baca Juga :  Dari Penghasilan Pegawai untuk Terang Warga: Kisah Haru di Oelpuah, Saat PLN NTT Menyalakan Harapan

Kini, melalui program Light Up The Dream, keluarga tersebut memiliki sambungan listrik sendiri. Sebuah perubahan sederhana dalam pandangan sebagian orang, tetapi sangat berarti bagi keluarga yang selama bertahun-tahun menantikan akses listrik mandiri.

Bagi keluarga Fitri, perjalanan menuju kepemilikan sambungan listrik mandiri bukanlah perkara sepele. Sebagai ibu rumah tangga, Fitri mendampingi suaminya, Andreas, yang bekerja sebagai petani untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan membesarkan dua anak mereka.

Dalam keterbatasan ekonomi, kebutuhan rumah tangga harus diatur dengan cermat. Termasuk kebutuhan listrik yang selama ini diperoleh dengan menumpang sambungan milik tetangga.
Ketergantungan tersebut membuat keluarga Fitri belum sepenuhnya leluasa menggunakan listrik untuk menunjang aktivitas di rumah. Ketidakpastian biaya bulanan juga menjadi salah satu tantangan yang mereka hadapi.

Karena itu, ketika sambungan listrik mandiri akhirnya menyala, momen tersebut menjadi pengalaman emosional bagi Fitri dan keluarganya.

“Terima kasih banyak untuk Bapak dan Ibu dari PLN. Selama lima tahun saya menumpang listrik tetangga, sekarang kerinduan kami untuk punya listrik sendiri akhirnya tercapai. Kami bisa beribadah dan beraktivitas di rumah dengan lebih tenang dan nyaman,” ungkap Fitri penuh haru.

Baca Juga :  Pj. Gubernur NTT Resmi Buka Kegiatan Latihan Kader Dasar dan Konferensi Wilayah Fatayat NU di Kota Kupang

Ungkapan tersebut menggambarkan arti akses listrik bagi keluarga yang hidup dalam keterbatasan. Listrik tidak hanya menghadirkan penerangan, tetapi juga memberikan keleluasaan untuk mengatur aktivitas rumah tangga tanpa terus bergantung pada sambungan milik orang lain.

Bagi keluarga petani seperti Andreas dan Fitri, akses listrik mandiri juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan kenyamanan hidup serta mendukung tumbuh kembang anak-anak mereka di lingkungan rumah.

Meski tidak serta-merta menyelesaikan seluruh persoalan ekonomi keluarga, hadirnya sambungan listrik sendiri merupakan langkah nyata untuk mengurangi keterbatasan yang selama ini mereka alami.

Bantuan yang diterima keluarga Fitri merupakan bagian dari program Light Up The Dream, sebuah inisiatif sosial PLN yang bersumber dari donasi sukarela para pegawai.

Melalui program ini, insan PLN menyisihkan sebagian penghasilan mereka untuk membantu masyarakat kurang mampu memperoleh sambungan listrik secara mandiri.

Baca Juga :  Antisipasi Gangguan Jelang Sumpah Pemuda, PLN Tuntaskan Pemeliharaan Gardu Induk Borong

Konsep tersebut menghadirkan dimensi kemanusiaan dalam pelayanan ketenagalistrikan. Kepedulian tidak hanya ditunjukkan melalui pekerjaan profesional untuk menjaga sistem kelistrikan, tetapi juga melalui kontribusi pribadi para pegawai bagi masyarakat yang membutuhkan.

Program LUTD menjadi salah satu upaya memperluas akses listrik bagi keluarga prasejahtera yang menghadapi keterbatasan dalam memperoleh sambungan listrik sendiri.

Bantuan kepada keluarga Fitri di Kelurahan Waioti menunjukkan bagaimana donasi sukarela dapat diterjemahkan menjadi manfaat langsung bagi penerimanya.

Di balik sambungan listrik yang kini menyala, terdapat semangat berbagi dari para pegawai yang ingin menghadirkan perubahan positif dalam kehidupan sesama.

Kehadiran program seperti ini juga mengingatkan bahwa pembangunan yang inklusif membutuhkan perhatian terhadap masyarakat yang belum sepenuhnya menikmati fasilitas dasar secara mandiri.

Akses listrik yang layak menjadi salah satu unsur pendukung kehidupan sehari-hari, terutama bagi keluarga yang harus mengelola kebutuhan rumah tangga dengan sumber daya terbatas.

Manager PLN UP2B NTT, Resa Rediansyah, menyampaikan bahwa program Light Up The Dream merupakan wujud nyata kepedulian dan semangat berbagi insan PLN kepada masyarakat.