Bupati Simon menekankan keluarga tetap keluarga, adat tidak bisa kita baku buang, tidak mungkin itak te sia fila hai ita tapi namate ita titu bania toh tidak mungkin. Ita lun pasti sai no jadi hentikan semua polemik-polemik, fiksi-fiksi, pandangan-pandangan, yang menyesatkan sendiri apalagi harus ribut-ribut sampai berurusan dengan Polisi karena salah dan bisa masuk penjara.
Lanjut Bupati Simon mengingatkan, memfitnah dan mencaci maki orang bisa masuk penjara. Oleh sebab itu mari kita tinggalkan semua perbedaan, mari kita bersyukur dan berterima kasih. Saat itu kampanye di tempat ini, saya sudah janji kalah atau menang saya harus kembali untuk halirin mama (sirih pinang) untuk bersyukur, berterima kasih dan itu janji, sehingga sekarang saya sudah jadi Kepala Daerah, saya datang. Sekalipun saya tidak jadi kepala daerapun saya tetap datang.
“ini pengalaman, lain kali orang lain maju jangan diremehkan, lain kali orang lain maju jangan disepelehkan, jangan terlalu ekstrim, kalau keluarga sendiri maju nanti kita yang malu sendiri. Jadi biasa-biasa saja. Tidak perlu tunjukkan kehebatan karena tidak ada manusia yang paling hebat di dunia ini, yang hebat itu hanya Tuhan, leluhur kita, alam semesta kita. Kita tidak ada apa-apanya, kita ini hanya sebutir debu. Karena kita terlalu ambisi juga ketika kita sudah meninggal kita tidak akan membawa apa-apa, kita hanya bawa tipe 2×1. Kesombongan itu saya tidak suka. Jadi hidup ini yang baik saja saling menghargai”, ungkap Bupati Simon sembari menginginkan perdamaian di tanah tercinta Malaka. (Oll)
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.










