Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Daerah  

Bupati SIKKA dan Pastor Paroki Letakan Batu Pertama Pembangunan Jembatan Layang Warga Bersorak “Kami Tidak Lagi Terisolasi”

Editor: Redaksi
IMG 20250802 WA0013

Antusiasme Masyarakat: “Kami Tidak Lagi Terisolasi”

Warga dari kedua desa menyambut pembangunan ini dengan antusiasme dan rasa syukur. Tokoh adat dan tokoh perempuan yang hadir dalam acara tersebut menyatakan bahwa jembatan ini tidak hanya akan memudahkan mobilitas, tetapi juga membuka akses pendidikan, layanan kesehatan, dan aktivitas ekonomi antar desa.

“Kami merasa diperhatikan. Ini bukan hanya jembatan, ini harga diri kami yang diangkat,” ungkap seorang ibu dari Dusun Mbongoroga.

Kolaborasi Lintas Sektor: Model Pembangunan Berbasis Kebutuhan Nyata

Baca Juga :  Bupati Malaka Apresiasi Seluruh Lintas Elemen Sebagai Ujung Tombak Rai Predikat WTP

Peletakan batu pertama ini juga dihadiri oleh berbagai elemen penting seperti pimpinan OPD, Babinsa, Bhabinkamtibmas, Kepala Puskesmas Wolofeo, para kepala desa dan BPD, serta pemuka adat dan pemuda desa. Keterlibatan banyak pihak menunjukkan bahwa pembangunan yang berangkat dari kebutuhan akar rumput mampu menyatukan berbagai lini pemerintahan dan masyarakat.

“Ini adalah contoh pembangunan yang tidak top-down, tapi lahir dari suara masyarakat dan disambut dengan hati oleh semua pihak,” ujar Kepala Desa Masebewa.

Jembatan Fisik dan Jembatan Sosial

Baca Juga :  Komandan Korem 161/Wira Sakti, Apel Kehormatan dan Renungan Suci (AKRS) di TMP Dharmaloka NTT

Proyek Jembatan Layang Masebewa–Lenandareta bukan hanya tentang struktur baja dan semen. Ia adalah simbol: simbol keterlibatan lintas sektor, simbol perjuangan akar rumput, dan simbol gereja yang hadir di tengah umatnya.

Ketika seorang pastor berani mengulurkan tangan mencari donatur, seorang bupati hadir mendukung dengan kebijakan, dan masyarakat bergotong royong menyumbang tenaga itulah saat pembangunan menjadi gerakan sosial yang bermakna.