Antusiasme Masyarakat: “Kami Tidak Lagi Terisolasi”
Warga dari kedua desa menyambut pembangunan ini dengan antusiasme dan rasa syukur. Tokoh adat dan tokoh perempuan yang hadir dalam acara tersebut menyatakan bahwa jembatan ini tidak hanya akan memudahkan mobilitas, tetapi juga membuka akses pendidikan, layanan kesehatan, dan aktivitas ekonomi antar desa.
“Kami merasa diperhatikan. Ini bukan hanya jembatan, ini harga diri kami yang diangkat,” ungkap seorang ibu dari Dusun Mbongoroga.
Kolaborasi Lintas Sektor: Model Pembangunan Berbasis Kebutuhan Nyata
Peletakan batu pertama ini juga dihadiri oleh berbagai elemen penting seperti pimpinan OPD, Babinsa, Bhabinkamtibmas, Kepala Puskesmas Wolofeo, para kepala desa dan BPD, serta pemuka adat dan pemuda desa. Keterlibatan banyak pihak menunjukkan bahwa pembangunan yang berangkat dari kebutuhan akar rumput mampu menyatukan berbagai lini pemerintahan dan masyarakat.
“Ini adalah contoh pembangunan yang tidak top-down, tapi lahir dari suara masyarakat dan disambut dengan hati oleh semua pihak,” ujar Kepala Desa Masebewa.
Jembatan Fisik dan Jembatan Sosial
Proyek Jembatan Layang Masebewa–Lenandareta bukan hanya tentang struktur baja dan semen. Ia adalah simbol: simbol keterlibatan lintas sektor, simbol perjuangan akar rumput, dan simbol gereja yang hadir di tengah umatnya.
Ketika seorang pastor berani mengulurkan tangan mencari donatur, seorang bupati hadir mendukung dengan kebijakan, dan masyarakat bergotong royong menyumbang tenaga itulah saat pembangunan menjadi gerakan sosial yang bermakna.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.










