Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Daerah  

Ketua DPD SMSI Kabupaten Malaka Minta Ketua PSSI Diberhentikan Secara Tidak Hormat

Editor: Redaksi
IMG 20250219 WA0026

Kupang, Mensanews.com- Nusa Tenggara Timur (NTT) belakangan ini diramaikan dengan berita kedatangan megabintang sepak bola, Cristiano Ronaldo, yang kabarnya akan melakukan kegiatan sosial di Pantai Asuhan. Pemberitaan tentang kedatangan Ronaldo pun dengan cepat menguasai berbagai platform media sosial, bahkan menjadi topik trending di Google.

Namun, di balik euforia tersebut, muncul kontroversi yang mengundang perhatian publik. Banyak pihak, termasuk Ketua DPD Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kabupaten Malaka, merasa curiga terhadap informasi yang beredar mengenai kedatangan Ronaldo ke Indonesia, khususnya ke NTT.

Ketua DPD SMSI Malaka, Legorius Vidigal Bria,S.Ip, mengecam keras apa yang dia anggap sebagai penipuan publik yang dilakukan oleh PSSI Nusa Tenggara Timur (NTT).

Baca Juga :  Tinjau BTTG di Desa Noelbaki Pj. Gubernur Tekankan Perlu Adanya Usaha Bersama Untuk Meningkatkan Produksi Alat dan Mesin

“Saya minta Ketua PSSI NTT, Christian Mboeik, untuk segera diberhentikan secara tidak hormat karena telah menipu publik dan masyarakat NTT,” ujar Ketua DPD SMSI Malaka dengan tegas, melalui pesan WhatsApp, Rabu 18 Februari 2025.

Pernyataan keras tersebut mengemuka setelah adanya pengumuman resmi dari Asosiasi Provinsi (ASPROV) PSSI NTT yang mengeluarkan surat bernomor 280/PSSI-NTT/II/NTT tentang kedatangan Ronaldo dan Yayasan Graha Kasih Indonesia ke Nusa Tenggara Timur. Surat tersebut langsung memicu pertanyaan dari masyarakat, khususnya warganet, yang menduga bahwa informasi ini tidak jelas kebenarannya.

Baca Juga :  Lewat TMMD Kodim 1604/Kupang Bantu Masyarakat Di tengah Pandemi Covid- 19

Lebih jauh, kecurigaan publik semakin menguat setelah Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) NTT, Dr. Yosef Nai Soi, MM, menyatakan bahwa dirinya tidak mengetahui sama sekali tentang kedatangan Ronaldo ke Kupang. Bahkan, menurutnya, beberapa pejabat tinggi, termasuk Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Menteri BUMN Erick Thohir, juga tidak memiliki informasi terkait hal tersebut.