“Sejak pagi tadi kami sudah putuskan, untuk seluruh masyarakat terdampak bencana di Pulau Flores yang butuh makanan, pakaian, selimut, silakan koordinasi dengan toko atau kios terdekat untuk dibantu. Pembayarannya nanti dari pemerintah,” katanya.
Kebijakan tersebut menjadi langkah pragmatis untuk menjawab persoalan paling mendasar dalam situasi tanggap darurat. Ketika akses distribusi bantuan belum sepenuhnya normal, kebutuhan warga dapat dipenuhi melalui sumber daya yang tersedia paling dekat dengan lokasi pengungsian maupun permukiman terdampak.
Pemerintah daerah juga terus membangun koordinasi dengan pemerintah kabupaten, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI-Polri, Basarnas, BMKG, BNPB dan berbagai unsur terkait.
Koordinasi lintas lembaga tersebut menjadi penting karena penanganan bencana gempa tidak berhenti pada distribusi makanan dan pakaian. Pemerintah juga menghadapi kebutuhan evakuasi, pencarian dan penyelamatan, pelayanan kesehatan, penyediaan tempat tinggal sementara, pemulihan infrastruktur serta memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi.
613 UMKM dan 115 Stand Ikut Menghidupkan Pameran
Di sisi lain, Pameran Pembangunan NTT 2026 tetap menjadi etalase perjalanan pembangunan daerah. Sebanyak 613 UMKM dan 115 stand yang terdiri dari instansi pemerintah, BUMN dan BUMD turut ambil bagian.
Kehadiran ratusan pelaku UMKM menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi masyarakat tetap menjadi bagian penting dari agenda pameran. Produk lokal, kreativitas pelaku usaha dan berbagai inovasi pembangunan ditampilkan kepada masyarakat.
Namun, di tengah kemeriahan tersebut, pemerintah mengingatkan agar euforia perayaan kemerdekaan tidak membuat masyarakat melupakan saudara mereka yang sedang berada dalam situasi sulit.
Pameran justru diharapkan menjadi titik temu antara promosi pembangunan dan kepedulian sosial. Produk UMKM boleh dipamerkan, inovasi daerah boleh diperkenalkan, tetapi semangat gotong royong harus tetap menjadi ruh dari seluruh kegiatan.
Dari Pameran, Solidaritas Diharapkan Bergerak ke Flores
Pameran Pembangunan NTT 2026 pada akhirnya bukan hanya tentang apa yang telah dibangun pemerintah, tetapi tentang bagaimana seluruh elemen masyarakat merespons persoalan yang sedang dihadapi daerah.
Bencana gempa di Flores menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak dapat berjalan sendiri-sendiri. Ketika satu wilayah mengalami bencana, wilayah lain harus hadir memberikan dukungan.
Dari arena pameran di Kupang, pesan itu disampaikan dengan jelas: kemajuan NTT harus berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap sesama.
Pameran yang berlangsung hingga 24 Agustus tersebut diharapkan mampu menjadi ruang bertemunya pemerintah, dunia usaha, UMKM dan masyarakat untuk tidak hanya melihat hasil pembangunan, tetapi juga mengambil bagian dalam kerja kemanusiaan.
Sebab bagi NTT, gotong royong bukan sekadar slogan dalam perayaan kemerdekaan. Di tengah bencana, gotong royong diuji melalui tindakan nyata dari satu tangan yang memberi, satu keluarga yang berbagi, hingga satu daerah yang berdiri bersama daerah lainnya.
Dan dari Kupang, solidaritas itu diharapkan terus mengalir menuju Flores.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.










