Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Daerah  

Guncang Panggung Kupang Pange Pulang! Syalom Pandie Tuai Pujian, Disebut Mirip Glenn Fredly dan Mike Mohede

Reporter : Oll
IMG 20261019 WA0079

KUPANG, Mensanews.com – Tak perlu menjadi penyanyi senior untuk mencuri perhatian di panggung besar. Syalom Pandie, penyanyi belia asal Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), membuktikan bahwa karakter vokal, penghayatan lagu, dan keberanian berimprovisasi dapat membuat ribuan penonton terpikat. Bahkan, sejumlah penonton menyebut penampilannya mengingatkan mereka pada dua penyanyi legendaris Indonesia, Mike Mohede dan Glenn Fredly.

Momen itu terjadi saat konser Kupang Pange Pulang di Auditorium Universitas Nusa Cendana (Undana), Sabtu, 17 Oktober 2026. Di hadapan ribuan penonton, Syalom membawakan tiga lagu dan perlahan membangun koneksi dengan audiens melalui penampilan yang penuh penghayatan.

Bagi penyanyi muda yang tengah menapaki perjalanan musikalnya, panggung tersebut menjadi lebih dari sekadar kesempatan bernyanyi. Penampilan itu membuka ruang bagi publik untuk mengenal potensi talenta muda dari NTT yang berani tampil dan menunjukkan kemampuannya di tengah kemeriahan konser.

Salah satu momen yang mencuri perhatian hadir ketika Syalom membawakan lagu “Sesi Potret” dari eńau. Dengan karakter vokal yang terdengar merdu dan interpretasi yang terasa personal, ia berusaha menyampaikan emosi lagu sekaligus mengajak penonton menikmati suasana yang dibangun di atas panggung.

Baca Juga :  Ketua Dan Wakil Ketua Dekranasda Povinsi NTT Louncing Mie Original Dari Bahan Baku Kelor Dan Singkong

Respons audiens pun terasa. Sejumlah penonton ikut bernyanyi, menciptakan suasana kebersamaan antara penyanyi dan mereka yang hadir malam itu.
Penampilan tersebut memperlihatkan bahwa kekuatan seorang penyanyi tidak hanya terletak pada kemampuan mencapai nada, tetapi juga pada cara menghidupkan lagu dan menyampaikan perasaan kepada pendengarnya.

Bagi Syalom, interaksi itu menjadi bagian penting dari penampilannya. Ia tidak sekadar menyanyikan lagu, tetapi juga membangun suasana yang membuat penonton merasa terlibat dalam pertunjukan.

Perhatian terhadap Syalom semakin terasa ketika ia membawakan lagu pamungkas, “Januari”, karya almarhum Glenn Fredly.

Lagu yang dikenal luas di kalangan pencinta musik Indonesia itu menjadi tantangan tersendiri bagi penyanyi muda. Glenn Fredly bukan hanya dikenal melalui lagu-lagu populernya, tetapi juga lewat karakter vokal, interpretasi emosional, dan identitas musikal yang melekat pada setiap penampilannya.

Dalam penampilan tersebut, Syalom mencoba memberikan interpretasi melalui dinamika vokal dan improvisasi. Pendekatan itu menarik perhatian sejumlah penonton yang kemudian memberikan respons positif.

Baca Juga :  BNPB Pusat Belum Cairkan Dana Stimulan Perbaikan Rumah Rusak Dampak Seroja

Sebagian penonton mengaku teringat pada Glenn Fredly, sementara lainnya menilai karakter vokal Syalom memiliki kemiripan dengan almarhum Mike Mohede. Bahkan, muncul ungkapan kekaguman dari penonton yang menyebut penampilan tersebut seolah menghadirkan kembali nuansa musikal Glenn Fredly.

Tentu, kemiripan itu merupakan kesan subjektif penonton, bukan penilaian teknis yang membuktikan bahwa karakter vokal mereka identik. Namun, respons tersebut menunjukkan bahwa penampilan Syalom meninggalkan kesan bagi sebagian audiens.

Ketika sejumlah penonton mulai penasaran dan bertanya siapa penyanyi muda yang baru saja tampil, perhatian terhadap Syalom pun berkembang menjadi percakapan tentang potensi talenta baru dari Kupang.

Perbandingan dengan penyanyi besar dapat menjadi bentuk apresiasi, tetapi sekaligus menghadirkan tantangan bagi seorang musisi muda.

Mike Mohede dan Glenn Fredly telah meninggalkan jejak tersendiri dalam industri musik Indonesia. Keduanya memiliki karakter, perjalanan, dan identitas artistik yang tidak terbentuk dalam waktu singkat.

Baca Juga :  Gubernur Terpilih NTT, Melki Laka Lena Apresiasi Kerja Keras Kontraktor Pembangunan Rumah Sakit Pratama Amfoang

Karena itu, bagi Syalom Pandie, kemiripan yang dirasakan penonton sebaiknya menjadi motivasi untuk terus belajar, bukan beban untuk memenuhi ekspektasi bahwa dirinya harus menjadi sosok seperti para senior tersebut.

Modal awal yang terlihat dari penampilannya di Kupang Pange Pulang adalah kemampuan menghayati lagu, membangun interaksi, dan mencoba improvisasi di hadapan audiens dalam jumlah besar.

Namun, perjalanan untuk menjadi penyanyi yang matang masih membutuhkan proses panjang. Latihan vokal secara konsisten, penguasaan teknik pernapasan, pengendalian dinamika, pemilihan repertoar, serta pengembangan karakter musikal akan menjadi bagian penting dari proses tersebut.

Lebih jauh, Syalom perlu menemukan warna suara dan interpretasi yang benar-benar menjadi identitasnya sendiri. Dengan demikian, publik kelak tidak hanya mengenalnya karena dianggap mirip dengan penyanyi lain, tetapi juga karena karya dan karakter musikal yang melekat pada namanya.

Respons penonton terhadap penampilan Syalom turut memunculkan harapan agar penyanyi belia tersebut mendapat kesempatan untuk mengembangkan karier ke tingkat yang lebih luas.