Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Samurai Of AFC Agus Tokan: Revolusi Ekonomi Kerakyatan Lewat AFC, Bisnis Tanpa Batas Usia, Kesehatan dan Penghasilan dalam Satu Paket

Reporter : Ollchan Editor: Redaksi
IMG 20250716 WA0016

Pembangunan Pustu (+)(Puskesmas Pembantu) di Lombok, NTB yang telah diresmikan langsung oleh Menteri Kesehatan RI.

Pembangunan Pustu (+ )di Poso, sebagai bentuk nyata komitmen perusahaan dalam mendukung akses layanan kesehatan di daerah tertinggal.

Farmasi dengan Paten Fungsi: Kualitas Tak Diragukan

Agus Tokan juga menekankan bahwa produk AFC bukan sekadar suplemen biasa. Dengan nomor paten fungsi, produk ini memiliki jaminan manfaat medis yang telah diakui secara hukum dan ilmiah. “Kalau produk sudah punya paten fungsi, artinya hasilnya pasti secara medis. Tidak semua produk bisa seperti itu. Ini yang membedakan AFC dari produk lain di pasaran,” tegasnya.

Baca Juga :  Gubernur Target 100 BUMDes Unggulan 2019

Model Bisnis Inklusif dan Efisien

Karena produk dikirim langsung dari Jepang ke Indonesia tanpa pabrik lokal dan tanpa distribusi berlapis, banyak biaya operasional yang bisa ditekan. Biaya yang seharusnya untuk gudang, transportasi, dan distribusi cabang-cabang digantikan dengan komisi langsung kepada para mitra.

“Jadi, cerita Anda tentang kesembuhan, manfaat produk, itu bernilai ekonomi. Perusahaan mengganti biaya distribusi itu dengan komisi untuk orang-orang yang menjadi bagian dari ekosistem kesehatan ini,” ujar Agus.

Solusi Ekonomi di Tengah Krisis

Baca Juga :  Bupati Malaka Tekankan Asas Kemanfaatan Pengelolaan Garam Bagi Masyarakat

Di akhir penjelasannya, Agus Tokan menyampaikan bahwa konsep AFC ini seharusnya dilihat sebagai bagian dari solusi ekonomi baru: bermitra melalui kesehatan dan edukasi.

“Banyak orang sekarang mencari peluang. Nah, ini peluang yang nyata. Tidak perlu modal besar, tidak butuh ijazah tinggi. Yang dibutuhkan hanya kejujuran dan semangat untuk berbagi, bercerita. Dan itu bisa memiliki penghasilan setiap hari. Ini yang harus dilihat sebagai kekuatan ekonomi kerakyatan,” pungkasnya.