Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Charlie Paulus Blak-blakan: Kredit Harus Produktif, Bukan Konsumtif!

Reporter : Mariani Editor: Redaksi
charlie-paulus-blak-blakan-kredit-harus-produktif-bukan-konsumtif
Charlie Paulus Blak-blakan: Kredit Harus Produktif, Bukan Konsumtif!

KUPANG, Mensanews.com- Direktur Utama Bank NTT, Charlie Paulus, menegaskan pentingnya pemanfaatan kredit secara bijak oleh masyarakat. Ia mengingatkan bahwa kredit perbankan, khususnya yang disalurkan melalui skema Kredit Usaha Rakyat (KUR), harus digunakan untuk kegiatan produktif, bukan konsumsi semata.

Pernyataan itu disampaikan Charlie kepada wartawan usai mengikuti Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi III DPRD Provinsi NTT, Rabu (25/3/2026).

Dalam forum tersebut, ia menyoroti masih adanya kecenderungan sebagian masyarakat memanfaatkan kredit untuk kebutuhan konsumtif, yang berpotensi memicu masalah keuangan di kemudian hari.

Baca Juga :  Tiga Kabupaten Di Povinsi NTT Mengikuti Pelatihan BUMDES Tingkat Provinsi.

“Kredit itu untuk usaha, bukan konsumsi. Hal ini harus dipahami agar tidak memicu terjadinya kredit bermasalah,” ujar Charlie.

Dorong Kredit Produktif untuk UMKM,
Bank NTT saat ini tengah menggenjot penyaluran KUR dengan total alokasi mencapai Rp350 miliar. Rinciannya, sebesar Rp50 miliar dialokasikan untuk pekerja migran, sementara Rp300 miliar lainnya diperuntukkan bagi sektor usaha produktif, khususnya pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Menurut Charlie, kebijakan tersebut merupakan bagian dari komitmen Bank NTT dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui penguatan sektor riil. UMKM dinilai memiliki peran strategis dalam menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Baca Juga :  Alexander Riwu: Kredit Mikro Merdeka, Bebaskan Masyarakat Dari Belenggu Rentenir

Namun demikian, ia menegaskan bahwa keberhasilan program kredit tidak hanya ditentukan oleh besarnya penyaluran dana, tetapi juga oleh kualitas penggunaan kredit itu sendiri.

“Kalau kredit digunakan sesuai peruntukan, maka usaha bisa berkembang. Tapi kalau digunakan untuk konsumsi, risikonya tinggi,” katanya.

Risiko Kredit Bermasalah Mengintai
Charlie tidak menampik bahwa peningkatan kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) menjadi salah satu tantangan yang dihadapi Bank NTT dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi tersebut turut memengaruhi capaian laba bank yang mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.

Baca Juga :  BWS- NT II Siap Bangun NTT, Rp 7 Tryliun lebih

Meski demikian, ia memastikan bahwa secara keseluruhan kinerja Bank NTT masih dalam kondisi positif dan tetap mencatatkan keuntungan.