Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Bangkit dari Kehilangan, Hana Sulap Talenta Memasak Jadi Usaha Kantin Berkat KUR BRI

IMG 20260813 WA0005

Hana mengaku telah menjadi nasabah BRI selama kurang lebih lima tahun. Ia pertama kali mengajukan KUR sebesar Rp20 juta dengan tenor dua tahun.
Seiring perkembangan kebutuhan usahanya, Hana kembali memperoleh pembiayaan dengan nominal Rp100 juta dan Rp50 juta.

Bagi Hana, pembiayaan tersebut menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga sekaligus mengembangkan usaha yang dirintisnya.

Ia menilai akses permodalan menjadi kebutuhan penting bagi pelaku usaha mikro yang ingin meningkatkan kapasitas bisnis, terutama ketika usaha mulai memiliki pelanggan dan kebutuhan operasional yang semakin besar.

“Saya merekomendasikan masyarakat yang ingin membangun usaha untuk mengajukan KUR karena sangat bermanfaat untuk membantu mengembangkan usaha,” ujarnya.

BRI Dorong Pelaku Usaha Berani Mengembangkan Potensi
Regional CEO BRI Region 17 Denpasar Hery Noercahya mengatakan, perjalanan Hana menjadi contoh bahwa keberanian mengembangkan potensi diri dapat menjadi titik awal dalam membangun usaha.

Baca Juga :  KUR BRI Buka Jalan, Henos Kembangkan Bisnis Advertising dan Ciptakan Lapangan Kerja

Menurutnya, talenta, keberanian memulai, dan kemauan untuk terus berusaha merupakan modal penting yang perlu dimiliki pelaku UMKM. Dukungan pembiayaan kemudian dapat menjadi salah satu instrumen untuk membantu usaha berkembang sesuai kebutuhan dan kapasitasnya.

“BRI senantiasa berkomitmen untuk mendukung pelaku usaha, khususnya sektor mikro dan kecil, agar dapat terus berkembang secara berkelanjutan. Kisah Ibu Hana menjadi contoh bahwa talenta, keberanian untuk memulai, serta kemauan untuk terus berusaha dapat menjadi modal penting dalam membangun dan mengembangkan usaha,” ujar Hery.

KUR BRI sendiri menjadi salah satu akses pembiayaan yang ditujukan untuk membantu pelaku usaha. Skema pembiayaan tersebut menawarkan sejumlah kemudahan, antara lain suku bunga yang relatif rendah, biaya administrasi yang ringan, serta pilihan plafon yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan usaha.

Baca Juga :  Soal Pengembangan UMKM, drg. Maria Nahak: Kami Mendapat Dukungan Ketua Dekranasda NTT.

Bagi pelaku UMKM seperti Hana, pembiayaan bukan sekadar tambahan modal. Lebih jauh, akses pembiayaan dapat menjadi jembatan untuk mempertahankan aktivitas usaha, memenuhi kebutuhan operasional, hingga meningkatkan kapasitas bisnis.
Mengubah Talenta Menjadi Kemandirian
Bagi Hana, usaha yang dijalankannya memiliki makna lebih dari sekadar memperoleh penghasilan.

Ia melihat kemampuan memasak sebagai talenta yang harus dimanfaatkan. Daripada membiarkan keterampilan tersebut tidak berkembang, Hana memilih mengubahnya menjadi kegiatan produktif.

“Kenapa Tuhan kasih talenta untuk berusaha? Daripada di rumah hanya duduk dan ngerumpi sana-sini, lebih baik kita gunakan talenta yang ada untuk usaha. Dengan berusaha, kita juga bisa mengenal banyak orang,” ungkapnya.

Baca Juga :  Dengan Pengukuhan TPAKD, Gubernur NTT: Agar Inklusi Keuangan Kita Dapat Dilakukan Dengan Baik.

Perjalanan Hana memperlihatkan wajah lain dari sektor UMKM di Kota Kupang: usaha kecil yang lahir dari keterampilan pribadi, dibangun melalui keberanian, kemudian diperkuat dengan akses pembiayaan.

Dari kehilangan, Hana menemukan alasan untuk kembali bergerak. Dari kemampuan memasak, ia menemukan peluang usaha. Dan melalui dukungan pembiayaan KUR BRI, usaha kantinnya mendapat ruang untuk terus bertahan dan berkembang.

Kisah tersebut sekaligus menegaskan bahwa membangun usaha tidak selalu harus dimulai dengan sesuatu yang besar. Talenta yang dimiliki, keberanian untuk memulai, ketekunan menjaga pelanggan, serta akses permodalan yang tepat dapat menjadi kombinasi penting untuk mengubah kemampuan sederhana menjadi sumber penghidupan yang berkelanjutan.