Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Peneliti Australia Gali Peran ‘Gender’ Dan ‘Generasi’ Dalam Produksi Pengetahuan Lokal NTT

JUSTIN WEJAK

Justin, kolumnis sejumlah media dan peneliti asal Lembata, menjelaskan komunitas masyarakat Lewokukung-Baolangu sangat akrab dengan aneka jenis kacang-kacangan maupun umbi-umbian baik yang ditanam di kebun maupun yang tumbuh liar di hutan dan percaya bahwa semuanya memiliki khasiat menyembuhkan.

“Di Desa Lewokukung-Baolangu terdapat aneka jenis kacang dengan nama lokal seperti delaj, wetem, uta mekjawa, sura mojek, sura engal, sura koles, dan lain-lain. Begitu juga ada aneka jenis tumbuhan obat seperti kweluk, malu, kleruk, liaru, kebelu, leptaka mera, dan lain-lain. Saat virus korona kian mengglobal, komunitas masyarakat Lewokukung-Baolangu dan desa-desa lainnya di Lembata malah berbalik lalu bersandar pula pada tanaman dan tumbuhan-tumbuhan herbal di wilayahnya masing-masing,” kata Justin Wejak, alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero, Maumere, Flores.

Menurut Justin, selain berbagi cerita-cerita setempat tentang makanan tradisional dan tumbuhan-tumbuhan obat, proyek ini meneliti bagaimana pengetahuan lokal diproduksi dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Proyek penelitian ini merupakan upaya untuk memahami peran-peran “gender” dan “generasi” dalam memproduksi, mewariskan, dan melestarikan pengetahuan dan praktik-praktik lokal mengenai makanan tradisional dan tumbuhan-tumbuhan obat dalam masyarakat agraris setempat.

Baca Juga :  Biarawati Katolik Prancis Berusia 117 Tahun Sembuh dari Covid-19

Pada bagian lain, Justin menambahkan, ada dua pertanyaan umum untuk penelitian tersebut. Pertama, bagaimana masyarakat Desa Lewokukung-Baolangu melestarikan pengetahuan dan kearifan lokal mereka terkait makanan tradisional dan tumbuhan-tumbuhan obat dalam sejarah lingkungan dan proses perubahan ekologis?

Kedua, apa peran “gender” dan “generasi” serta hubungan kekerabatan dalam produksi pengetahuan lokal terkait makanan tradisional dan tumbuhan-tumbuhan obat? Penelitian ini menggunakan pendekatan “partisipatif” di mana para peneliti terlibat langsung dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

“Melalui keterlibatan itu para peneliti mendengarkan, mengamati, dan berdialog secara terbuka dengan warga setempat tentang makanan-makanan tradisional dan tumbuhan-tumbuhan obat. Menghabiskan waktu bersama dengan para partisipan dalam penelitian.(*MN)