JAKARTA, Mensanews.com – Nama putra terbaik Nusa Tenggara Timur (NTT), Dr. Drs. Josef/Yoseph Nae Soi, M.M., kembali mencuat di panggung nasional. Kali ini, sosok yang pernah menduduki posisi Wakil Gubernur NTT itu dikabarkan mendapat kepercayaan untuk mengemban tugas sebagai Duta Besar Republik Indonesia.
Kabar tersebut semakin menguat setelah Yoseph Nae Soi disebut telah memaparkan visi dan misi diplomasi di hadapan Komisi I DPR RI sebagai bagian dari proses yang berkaitan dengan calon duta besar.
Namun, hingga berita ini ditulis, belum ditemukan pengumuman resmi yang memastikan penetapan Yoseph Nae Soi sebagai Duta Besar RI untuk negara tertentu. Karena itu, informasi tersebut masih berada pada ranah kabar yang menguat, sementara keputusan resmi tetap menjadi kewenangan pemerintah melalui mekanisme yang berlaku.
Jika benar mendapat amanah diplomatik tersebut, Yoseph Nae Soi tidak sekadar membawa nama pribadi atau daerah asalnya. Ia akan berada pada posisi sebagai representasi negara yang dituntut menerjemahkan kebijakan luar negeri Presiden ke dalam kerja diplomasi yang konkret.
Diplomasi Bukan Sekadar Seremoni
Dalam pemaparan visi dan misi yang diterima Mensanews.com, Kamis (24/9/2026), Yoseph Nae Soi menempatkan Asta Cita Presiden sebagai salah satu pijakan arah diplomasi.
Menurutnya, seorang duta besar tidak hanya menjalankan fungsi representatif, tetapi juga harus mampu menerjemahkan visi dan misi Presiden menjadi diplomasi eksekusi.
Atas dasar pemikiran tersebut, ia menyusun program kerja diplomasi melalui empat pilar utama, yakni pilar politik, pilar ekonomi, pilar konsuler, serta pilar sosial budaya.
Keempat pilar tersebut kemudian dijabarkan dalam sejumlah agenda kerja yang diarahkan untuk memperkuat kepentingan Indonesia di luar negeri.
Pilar Politik: Smart Diplomacy
Pada sektor politik, konsep yang ditawarkan adalah Smart Diplomacy, yakni kombinasi antara soft diplomacy dan hard diplomacy.
Pendekatan ini menempatkan diplomasi Indonesia agar mampu membaca situasi, memilih momentum, sekaligus menentukan pintu masuk yang tepat dalam memperjuangkan kepentingan nasional.
Dalam pemaparannya, Yoseph menggunakan pendekatan diplomasi yang ia gambarkan melalui prinsip “tempalah besi selagi panas” serta strategi “masuk ikut pintu dia, keluar ikut pintu kita.”
Prinsip tersebut menggambarkan pentingnya kemampuan membaca momentum dan membangun pendekatan diplomatik yang fleksibel tanpa kehilangan kepentingan nasional.
Salah satu contoh yang disinggung adalah persoalan Laut China Selatan, termasuk pendekatan melalui ASEAN dan isu landas kontinen. Artinya, diplomasi Indonesia tidak hanya bertumpu pada hubungan bilateral, tetapi juga memanfaatkan kekuatan forum regional untuk memperjuangkan kepentingan nasional.
Pilar Ekonomi: Perkuat JBCBC dan Perdagangan Mata Uang Lokal
Pilar kedua adalah ekonomi.
Dalam rancangan program kerja yang dipaparkan, Yoseph Nae Soi menempatkan penguatan kerja sama ekonomi sebagai salah satu instrumen penting diplomasi Indonesia.
Salah satu gagasannya adalah memperkuat JBCBC serta mendorong mekanisme barter dengan menggunakan mata uang lokal dalam hubungan perdagangan.
Pendekatan tersebut diarahkan agar diplomasi tidak berhenti pada hubungan politik antarnegara, tetapi memberikan dampak langsung terhadap kepentingan ekonomi Indonesia.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.










