Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Daerah  

Tragis di Puskesmas Waiknuit: Buruknya Pelayanan Diduga Sebabkan Kematian Bayi

Reporter : Oll Editor: Redaksi
IMG 20250923 WA0014

Waikeluit, Lembata, MNC– Duka mendalam menyelimuti pasangan Dominikus Duli dan istrinya setelah bayi perempuan mereka meninggal dunia saat mencari pertolongan medis di Puskesmas Waikeluit. Peristiwa ini menyoroti dugaan kelalaian dan buruknya pelayanan kesehatan yang diberikan oleh pihak puskesmas, yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam penyelamatan nyawa.

Tujuan Hanya Ambil Rujukan, Berujung Kematian Tragis

Menurut penuturan Bapak Dominikus  Duli Ujan, pada malam nahas itu (sekitar pukul 23.00 WITA), ia dan istrinya membawa anak mereka ke Puskesmas Waikeluit bukan untuk rawat inap, melainkan hanya untuk mengambil surat rujukan agar bisa melanjutkan pemeriksaan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Lewoleba. Bayi mereka mengalami gejala seperti sesak napas, muntah, pilek, dan lendir di tenggorokan, namun secara umum masih dalam kondisi stabil.

“Anak kami cuma muntah karena terlalu banyak minum ASI, kondisinya masih baik saat kami sampai di Puskesmas,” ujar Dominikus kepada Media ini melalui WhatsApp, Jumad 19 September 2025.

Baca Juga :  Bupati Malaka Tantang Guru Soal Akreditasi dan Kualitas Pendidikan

Tidak Ada Tindakan Medis Selama 12 Jam

Setibanya di Puskesmas, mereka sempat diterima oleh perawat yang bertugas dan data pasien dicatat. Namun yang mengejutkan, tidak ada satu pun tindakan medis yang dilakukan sejak pukul 23.00 malam hingga pukul 11.00 siang keesokan harinya. Padahal, menurut pengakuan perawat, ada dokter jaga malam itu yang standby di rumah.

Setelah menunggu hingga keesokan hari, barulah dr. Selamet Erikson Sitinjak datang dan memeriksa bayi tersebut. Namun, pemeriksaan yang dilakukan pun disebut sangat singkat dan tidak menyentuh tindakan medis darurat.

Baca Juga :  Untuk Kemajuan PKB Di Malaka, Paulo Roberto: Kita Harus Mulai Dari Tata Kelola kesekretariatan

Respons Dokter Dinilai Kasar dan Tidak Profesional

Bapak Domi juga mengungkapkan kekecewaannya terhadap sikap dokter yang dinilai kasar dan tidak empatik saat mereka menjelaskan tujuan kedatangan hanya untuk meminta surat rujukan.

“Dokter Erik malah bertanya dengan nada tinggi, ‘Apa hubungannya lendir dengan muntah?’ Itu menyakitkan bagi kami sebagai orang tua yang hanya ingin bantuan,” jelas Domi.

Prosedur Infus Gagal dan Diduga Picu Kondisi Bayi Memburuk

Setelah diskusi dengan orang tua, dokter kemudian memerintahkan perawat untuk memasang infus. Saat itulah proses medis yang dianggap lalai mulai terjadi. Perawat senior bernama Ibu Gardis yang diberi tanggung jawab untuk memasang infus terlihat ragu-ragu dan beberapa kali gagal menemukan vena bayi. Akibatnya, infus harus dipasang ulang beberapa kali.

Baca Juga :  drg. Maria Nahak: Peran Kader Posyandu Sebagai Penggerak Bagi Kesehatan Masyarakat

“Ditusuk-tusuk jarum, anak kami menangis keras. Setelah itu keluar banyak darah dari bekas suntikan, dan anak kami mulai gemetar,” ungkap Domi dengan suara lirih.

Tabung Oksigen Kosong, SOP Tidak Dikuasai Petugas

Kondisi bayi semakin memburuk, dan dokter memerintahkan pemasangan oksigen. Namun ironisnya, tabung oksigen yang ada ternyata kosong, dan petugas medis di puskesmas disebut tidak tahu cara mengoperasikan peralatan oksigen. Sopir ambulans bahkan harus dipanggil untuk membantu memasang oksigen, namun semua sudah terlambat.