Kupang, Mensanews.com – Bertepatan satu tahun kepemimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) periode 2025–2030, Ruang Sidang Utama DPRD NTT, Jumat (20/2/2026), menjelma menjadi ruang refleksi sekaligus koreksi. Dalam Rapat Paripurna DPRD, Gubernur NTT, Melkiades Laka Lena, didampingi Wakil Gubernur Johanis Asadoma, menyampaikan laporan kinerja tahun pertama pemerintahan di hadapan pimpinan dan anggota dewan.
Pidato tersebut tak sekadar memaparkan angka capaian makro, melainkan menghadirkan dialektika pelayanan publik antara ekspektasi rakyat dan kerja birokrasi, antara fondasi sistem dan dampak nyata di tingkat keluarga.
“Tahun pertama adalah tahun fondasi. Tahun kedua adalah tahun percepatan yang menyentuh desa dan keluarga,” tegas Gubernur Melki.
Ekonomi Tumbuh, Kemiskinan Turun Tantangan Struktural Mengintai
Secara makro, Pemerintah Provinsi NTT mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,14 persen pada 2025. Angka kemiskinan turun dari 19,02 persen (September 2024) menjadi 17,50 persen (September 2025), atau sekitar 1,03 juta jiwa.
Namun, Gubernur mengingatkan bahwa statistik agregat belum tentu mencerminkan kenyataan di lapangan.
“Pertumbuhan ekonomi harus berujung pada berkurangnya kemiskinan. Dan pengurangan kemiskinan harus bermuara pada peningkatan martabat manusia.”
Dengan Gini Ratio 0,322, ketimpangan pengeluaran berada pada kategori sedang. Tetapi karakter geografis NTT sebagai provinsi kepulauan menjadikan kesenjangan akses antarwilayah sebagai persoalan mendasar terutama pada layanan dasar, distribusi pangan, dan konektivitas ekonomi.
Pilar Ekonomi: Hilirisasi Harga Mati
Dalam pilar ekonomi berkelanjutan, Pemprov NTT mendorong strategi hilirisasi berbasis desa melalui program One Village One Product (OVOP). Hingga 2025, tercatat 44 produk unggulan dan 190 UMKM binaan.
Desa Tuamese di Kabupaten Timor Tengah Utara menjadi contoh. Produksi minyak kayu putih, bandeng asap, dan gula lempeng meningkat setelah mendapat pendampingan teknis dan akses pasar.
“Nilai tambah harus tinggal di NTT. Lapangan kerja harus tercipta di desa.”
Sebanyak 22 NTT Mart dibentuk sebagai simpul distribusi produk lokal, diperkuat Gerakan Beli NTT yang menyasar ASN dan masyarakat luas. Strategi ini dimaksudkan memutus ketergantungan pada rantai distribusi luar daerah serta memperkuat ekonomi sirkular lokal.
Laut, Lumbung Pangan, dan Peternakan: Identitas Ekonomi NTT
Sebagai provinsi kepulauan, sektor perikanan menyumbang 15,31 persen produksi daerah, dengan komoditas unggulan tuna, cakalang, dan tongkol. Pemerintah menegaskan arah pembangunan ekonomi biru: produktivitas meningkat tanpa mengorbankan keberlanjutan sumber daya laut.
Di sektor pertanian, produktivitas padi meningkat dari 4,19 ton per hektare (2024) menjadi 4,56 ton per hektare (2025). Produksi beras melonjak 36,81 persen, membawa NTT masuk lima besar nasional dan meraih Penghargaan PIN Swasembada Pangan dari Kementerian Pertanian RI.
Sektor peternakan juga menunjukkan tren positif. Populasi sapi mencapai 622.276 ekor pada 2025, kerbau meningkat 23,7 persen, dan kuda tumbuh 44,3 persen.
Namun Gubernur menegaskan, keberhasilan tak boleh berhenti pada angka populasi.
“Yang ingin kita bangun bukan hanya ternak yang bertambah, tetapi peternak yang semakin sejahtera.”
Pariwisata: Event sebagai Motor Ekonomi
Event Tour de EnTeTe (TDE) 2025 sepanjang 1.541 km melibatkan sekitar 400 UMKM dan menghasilkan dampak ekonomi Rp10,21 miliar. Sektor jasa perusahaan, transportasi, dan akomodasi menjadi kontributor terbesar.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.










