“Di Jawa, singkong bisa diolah menjadi berbagai macam keripik dengan rasa yang beragam karena adanya mesin pembuat keripik. Kita perlu mencari teknologi yang tepat guna seperti ini agar tidak perlu lagi mengimpor dari luar,” tambahnya.
Sonny Keraf juga mengajak Bupati Simon Nahak untuk memprioritaskan pangan lokal dan menghentikan ketergantungan pada produk impor.
Menurutnya, Malaka memiliki potensi besar dalam memproduksi beras dan jagung, sehingga antara produsen dan konsumen bisa sama-sama mendapatkan keuntungan.
“Promosikan bahwa kita makan jagung bose, ikan kering, dengan santan dan ikan teri. Dengan begitu, kita bisa memastikan bahwa makanan lokal yang bergizi tinggi dikonsumsi oleh masyarakat dan membantu mengatasi masalah stunting,” tegas Sonny Keraf.
Dalam pertemuan tersebut, Sonny Keraf juga mengapresiasi beberapa program inovatif yang telah dijalankan oleh Bupati Simon Nahak, seperti Program Sakti, Brand Nona Malaka, dan Fore Lakateu.
Ia juga memuji langkah Bupati Malaka dalam memberikan insentif kepada tua adat, yang menurutnya merupakan langkah baru dan pertama di NTT.
“Bupati Malaka telah menunjukkan komitmen yang luar biasa dalam memajukan daerahnya. Program-program ini sangat inovatif dan patut dicontoh oleh daerah lain di NTT,” pungkas Sonny Keraf.
Pertemuan ini diharapkan dapat menghasilkan kebijakan dan langkah konkret yang akan membawa perubahan positif bagi perekonomian dan kesejahteraan masyarakat Malaka.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.










