Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Daerah  

Tiba di Maumere, Silet Open Up Disambut Bupati Sikka: “Lumbung Benih” Sebagai Tema Kebangkitan Budaya dan Pertanian Lokal

Editor: Redaksi
IMG 20250918 WA0001

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sikka, Even Edomeko, menyebut bahwa tema ini dipilih karena banyak tradisi bertani dan berladang di Sikka yang mulai tergerus modernisasi upaya melestarikan sako seng (gotong royong membuka lahan sambil bernyanyi dan menari), tradisi menyiapkan lahan, dan lainnya, adalah bagian dari pameran budaya FJM.

Siapa Silet Open Up?

Silet Open Up, nama asli Siprianus Bhuka, berasal dari Flores, Nusa Tenggara Timur. Ia terkenal setelah berhasil mencuri perhatian publik melalui lagu “Tabola Bale”, yang viral di media sosial dan bahkan dibawakan dalam sebuah acara kenegaraan di Istana Merdeka pada HUT ke-80 RI.

Gaya musiknya menggabungkan unsur modern dan tradisional, menyuntikkan nuansa lokal khas NTT dalam lirik dan aransemen sehingga resonansinya terasa kuat di antara masyarakat wilayah timur dan juga khalayak lebih luas.

Baca Juga :  Bupati Simon : Kata Kuncinya Tenang, Sabar, Fokus dan Percaya Diri

Harapan dan Implikasi

  • Pelestarian budaya & tradisi lokal: Dengan tema “Lumbung Benih,” festival ini diharapkan menghidupkan kembali praktik-praktik agraris yang berakar kuat di masyarakat, sekaligus memberikan ruang bagi generasi muda untuk memahami dan meneruskan tradisi tersebut.
  • Promosi pariwisata: FJM tidak hanya menampilkan hiburan, tapi juga menjadi ajang promosi potensi pariwisata Kabupaten Sikka — alam, budaya, kuliner, UMKM.
  • Pertumbuhan ekonomi lokal: Keterlibatan sekitar 80 UMKM dari Sikka dan daerah lain, serta pameran ekonomi kreatif, diharapkan mendorong sirkulasi modal lokal dan memberi manfaat langsung kepada pengrajin, petani, dan pelaku usaha kecil.
Baca Juga :  Kepala BNPB Doni Monardo Akan Tinjau Pengungsian Erupsi Gunung Ile Lewotolok

Tantangan

  • Tergerusnya tradisi: Modernisasi dan urbanisasi berpotensi menyebabkan tradisi seperti gotong royong dalam membuka lahan, ritual bertani, dan estetika budaya yang terkait kehilangan tempatnya. Festival ini bisa menjadi langkah mitigasi, tapi harus ada kelanjutan supaya dampaknya berkelanjutan.
  • Akses & Infrastruktur: Untuk menarik pengunjung lebih luas, diperlukan infrastuktur pendukung (akses ke destinasi wisata, akomodasi, fasilitas umum) supaya festival tidak hanya dinikmati oleh warga lokal.
  • Kesinambungan: Festival semacam ini idealnya menjadi agenda rutin agar tidak hanya momen sesaat, melainkan bagian dari strategi pembangunan sosial-budaya dan ekonomi.
Baca Juga :  Progres Pembangunan IPA Kali Dendeng Capai 25%, Siap Beroperasi Tahun 2022

Kedatangan Silet Open Up ke Maumere bukan semata untuk hiburan, tetapi simbol pertemuan antara musik kontemporer dan akar budaya lokal. Festival Jelajah Maumere dengan tema “Wini Ronan (Lumbung Benih)” memberi panggung lebih dari sekadar pentas seni: ia menjadi ruang refleksi, revitalisasi budaya agraris, dan peneguhan identitas daerah Sikka di tengah arus modernisasi. Jika dirawat dengan baik, FJM berpotensi menjadi salah satu festival unggulan di Nusa Tenggara Timur, yang mampu memberi manfaat budaya dan ekonomi secara meluas.