Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Turnamen Catur Kupang 2025 Resmi Dibuka, Disabilitas Tampil Setara Tanpa Batas

Editor: Redaksi
IMG 20250906 WA0106

Dengan sistem pertandingan yang terbuka bagi semua kalangan, turnamen ini menjadi ruang strategis untuk menjaring bibit-bibit muda berbakat dan memperkuat jaringan antarklub catur di wilayah Kota Kupang.

Peserta Disabilitas Berlaga Setara, Tunjukkan Semangat Tanpa Batas

Salah satu momen paling berkesan dalam turnamen ini adalah kehadiran delapan pecatur disabilitas, yang berkompetisi di arena yang sama, dengan aturan yang sama, dan tanpa pengecualian. Mereka tidak meminta keringanan — justru tampil dengan semangat juang tinggi, menjunjung nilai sportivitas dan kesetaraan.

Baca Juga :  PON 2028 di NTT: Hasil Bidding Panjang dan Lobi Politik Sang Politisi Senior

Panitia menyampaikan bahwa keikutsertaan mereka bukan hanya menjadi inspirasi, tetapi juga bukti nyata bahwa olahraga catur adalah ruang terbuka bagi siapa saja, tanpa diskriminasi.

“Kami ingin turnamen ini menjadi ruang inklusif. Semua peserta, termasuk penyandang disabilitas, memiliki hak yang sama untuk menunjukkan kemampuan terbaik mereka di papan catur,” ujar salah satu panitia dari Pondok Catur NTT.

Menuju Agenda Tahunan dan Pembibitan Atlet Nasional

Turnamen Catur Piala Wali Kota Kupang 2025 diharapkan tidak hanya berhenti sebagai ajang tahunan biasa, tetapi menjadi platform berkelanjutan untuk pembinaan atlet catur profesional. Diharapkan dari ajang ini akan lahir pecatur-pecatur handal yang dapat bersaing di tingkat regional maupun nasional, bahkan membawa harum nama Kota Kupang di pentas internasional.

Baca Juga :  Menyambut sidang Commision on the Status of Women atau CSW ke-63 yang akan digelar pada 11-22 Maret 2019 di New York, sejumlah perwakilan negara di kawasan Asia-Pasifik menggelar rapat persiapan di Bangkok, Thailand

Turnamen ini bukan sekadar kompetisi. Ia adalah perayaan logika, strategi, keberanian, dan inklusivitas. Catur tak lagi milik segelintir elit, tetapi milik semua: dari anak-anak hingga dewasa, dari yang bertubuh sehat hingga yang menghadapi keterbatasan fisik. Di papan catur, semua setara. Dan di Kupang, harapan itu mulai digerakkan  satu langkah lebih maju dari biasanya.