Bupati Juventus menegaskan bahwa program ini bukan sebatas kegiatan seremonial, melainkan agenda yang akan dilaksanakan secara rutin tiga kali seminggu, yakni setiap Senin, Rabu, dan Jumat. Jadwal ini memungkinkan respons cepat terhadap isu-isu yang mendesak serta perencanaan jangka panjang berdasarkan input dari masyarakat.
Menurut Very Awales, respon masyarakat sangat positif. Banyak yang merasa didengarkan dan dihargai sebagai bagian penting dalam proses pembangunan daerah.
“Masyarakat senang bisa bicara langsung, dan Bapak Bupati mendengarkan dengan serius,” kata Very.
Menuju Budaya Pelayanan Publik yang Inklusif
“Oras Kula Babong” tak hanya menjadi wadah penyampaian aspirasi, tapi juga memperkuat transparansi dan akuntabilitas dalam pemerintahan lokal. Di tengah menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap institusi formal di berbagai daerah, pendekatan seperti ini menunjukkan bahwa pemerintah daerah mampu menjadi ruang dialog yang hidup, terbuka, dan solutif.
Dengan membuka ruang diskusi di ruang kerja bupati, simbol paling tinggi dari kepemimpinan daerah, pesan yang ingin disampaikan sangat jelas: rakyat adalah mitra, bukan objek pembangunan.
Jika program ini terus dijalankan secara konsisten dan disertai tindak lanjut nyata terhadap setiap aspirasi yang masuk, maka “Oras Kula Babong” bukan hanya akan menjadi ciri khas kepemimpinan Bupati Juventus, tetapi juga warisan demokrasi partisipatif di Nusa Tenggara Timur.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.










