Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Daerah  

Bersama Warga Konga: Gubernur Melki Tunjukkan Pemerintah Tak Tinggal Diam

Editor: Redaksi
IMG 20250906 WA0093

Konga, Mensanewa.com– Malam belum sepenuhnya larut, namun suasana di hunian sementara (huntara) 1 dan 2 Konga, Kecamatan Wulanggitang, terasa hidup. Pada Jumat (5/9/2025), warga korban erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki berkumpul dalam kehangatan yang berbeda. Bukan karena lampu penerangan atau suara anak-anak yang masih bermain, melainkan karena kehadiran orang nomor satu di NTT: Gubernur Emanuel Melkiades Laka Lena.

Di sela perjalanan dinasnya menuju Maumere, Gubernur Melki menyempatkan diri untuk berdialog langsung dengan ratusan warga pengungsi, menyerap aspirasi, mendengarkan keluhan, sekaligus menegaskan komitmen bahwa pemerintah hadir bukan hanya dalam kata-kata, tetapi juga dalam tindakan nyata.

Dialog di Tengah Gelap: Bukan Sekadar Formalitas

Baca Juga :  Diskusi Publik Survei Kepuasan Masyarakat: Satu Tahun Kepemimpinan Melki-Johni, Evaluasi Kritis dan Komitmen Perbaikan

Mengenakan jaket kasual dan didampingi sejumlah pejabat daerah, Gubernur Melki membuka dialog dengan permohonan maaf karena kunjungan dilakukan pada malam hari. Namun, suasana yang semula canggung berubah menjadi hangat ketika Gubernur mulai mendengar satu per satu suara warga.

“Saya tahu bapak, mama, dan anak-anak semua tidak ingin tinggal di sini selamanya. Pemerintah sedang siapkan hunian tetap. Tapi malam ini saya datang dulu, dengar langsung apa yang paling dibutuhkan,” ungkap Gubernur Melki dalam sambutannya.IMG 20250906 WA0094

Suara Dari Huntara: Air Bersih, Sekolah, dan Harapan

Baca Juga :  Permintaan Warga NTT akan Vaksin Booster Tinggi

Yohanes Fandi Benediktus, Kepala Dusun Kampung Baru, mewakili warga menyampaikan kondisi terkini. Ada lebih dari 400 kepala keluarga tinggal di dua lokasi huntara. Mereka menghadapi berbagai kesulitan:

Air bersih terbatas, terutama saat musim kemarau.

Jarak sekolah jauh, terutama untuk SMK dan SMA.

Akses kesehatan minim, hanya mengandalkan tenaga kesehatan yang datang sesekali.

Kondisi sanitasi darurat, dengan MCK seadanya.

Sektor pertanian terdampak, karena lahan garapan hilang dan benih serta pupuk sulit diakses.

Bantuan beras terbatas, tidak mencukupi kebutuhan satu bulan penuh.

Baca Juga :  Gubernur Terpilih NTT, Melki Laka Lena Apresiasi Kerja Keras Kontraktor Pembangunan Rumah Sakit Pratama Amfoang

Namun Yohanes juga menegaskan, semangat warga tidak padam. Bersama, mereka membentuk kelompok tani antar desa, mulai menggarap lahan baru meski terbatas, serta berinisiatif membangun hunian semi permanen dari bahan seadanya.