Mulai dari budidaya, panen, pengolahan, pengemasan hingga pemasaran dapat dikembangkan menjadi satu ekosistem usaha masyarakat.
Menurut Taufiq, pengembangan produk turunan berpotensi meningkatkan nilai ekonomi warga secara signifikan sekaligus menciptakan peluang kerja baru.
Sementara untuk memastikan infrastruktur air dapat terus berfungsi setelah program berjalan, PLN membentuk Komite Air lokal yang melibatkan warga secara langsung.
Komite tersebut diharapkan menjadi bagian penting dalam menjaga, mengelola dan memastikan keberlanjutan fasilitas yang telah dibangun.
Warga Minta Program Diperluas
Dampak program mulai dirasakan masyarakat. Lurah Naioni, Oktovianus Nifu, menyampaikan apresiasi atas kontribusi PLN UIW NTT yang dinilainya memberikan manfaat nyata bagi warga.
Namun, menurutnya, keberhasilan di RT 19 justru membuka harapan baru agar program serupa dapat diperluas ke wilayah lain di Kelurahan Naioni.
“Manfaat program ini sangat nyata bagi masyarakat. Besar harapan kami kepada pihak PLN UIW NTT agar cakupan program ini dapat diperluas, tidak hanya di RT 19, tetapi juga menjangkau 22 RT dan 10 RW di Kelurahan Naioni agar dampaknya semakin merata,” tutur Oktovianus.
Permintaan tersebut menggambarkan bahwa persoalan air bersih dan pengembangan ekonomi produktif masih menjadi kebutuhan penting bagi masyarakat Naioni.
Jika program dapat direplikasi, manfaat yang semula dirasakan puluhan keluarga di satu lingkungan berpotensi menjangkau masyarakat yang lebih luas.
Dari Melihat Melon di Pasar, Kini Memanen Sendiri
Cerita paling sederhana sekaligus kuat datang dari warga.
Ketua RT 19 sekaligus Ketua Komite Air, Dominggus Anin, mengaku panen perdana tersebut menjadi pengalaman yang sebelumnya sulit dibayangkan.
“Dulu kami hanya bisa melihat buah melon di pasar tanpa pernah membayangkan bisa menanamnya sendiri. Lewat program PLN Peduli ini, untuk pertama kalinya kami bisa menanam, memanen, dan menikmati buah melon langsung dari tanah kami tanpa harus membeli,” kata Dominggus.
Menurutnya, keberadaan program tersebut memberikan dampak positif, baik untuk kebutuhan konsumsi rumah tangga maupun perekonomian warga.
Pernyataan itu menunjukkan perubahan sederhana yang menjadi inti dari program pemberdayaan: masyarakat tidak hanya menerima bantuan, tetapi mulai memiliki kemampuan untuk menghasilkan sendiri.
Electrifying Agriculture untuk Ekonomi Berkelanjutan
Program di Naioni sekaligus menjadi bagian dari upaya PLN mengembangkan konsep electrifying agriculture, yakni mengintegrasikan layanan kelistrikan dengan aktivitas pertanian produktif.
Dalam konteks Naioni, listrik menggerakkan pompa air, air menopang lahan pertanian, sementara hasil pertanian membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Rantai tersebut menciptakan hubungan antara infrastruktur dasar dan pemberdayaan ekonomi yang saling menguatkan.
Panen perdana melon dan sayuran akhirnya bukanlah garis akhir program TJSL PLN UIW NTT. Justru, panen tersebut menjadi titik awal untuk membangun tahap berikutnya: memperluas lahan, meningkatkan produktivitas, mengembangkan produk olahan, memperkuat kelembagaan warga hingga membuka akses pasar.
Jika rantai tersebut mampu dipertahankan, lahan pertanian di Naioni tidak hanya menghasilkan melon dan sayuran, tetapi juga dapat melahirkan kemandirian, nilai tambah dan peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.










