“Saya yakin ada brand, ada merek, lama-kelamahan menjadi kedaulatan pangan. Walaupun kita swasembada, tetapi karena punya brand punya merek orang akan mencari beras nona malaka. Jika dimakan rasanya enak, wangi, tentunya orang akan cari, dan kita jual dengan harga yang lumayan standard dan lumayan tinggi”, tandas Bupati Simon.
Lebih lanjut, Bupati Simon menguraikan, dengan begitu ada peningkatan status penyebutan swasembada menjadi kedaulatan. Artinya beras ini diproduksi untuk kita dulu, ada kelebihan baru dijual.
Bupati Simon mengharapkan agar dua komoditi utama, yaitu jagung dan kacang hijau dikembangkan secara baik ke depannya. Kekurangan benih, bibit atau pupuk harus segera dipenuhi.
“Saya tidak mau masyarakat saya mengeluh karena ini program utama yang terus dikembangkan. Lahan yang tidak bisa dijangkau dengan air, harus dibersihkan dan tanam kacang hijau. Dan ini membutuhkan kerjasama yang baik sehingga target kita bisa tercapai,” tandasnya.
Bupati Malaka juga memberikan apresiasi kepada bank NTT yang telah membantu masyarakat dalam hal pendanaan untuk memperlancar segala kebutuhan terkait penanaman sampai pada pemanenan. (Yan)
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.










