“Setelah dilantik menjadi Bupati Nian Tanah Sikka pada waktu lalu, saya gugurkan air mata. Saya ingat kembali semuanya. Bapa, mama, om, tanta, kakak-adik, teman-tean masa kecil saya semuanya. Yah, saya ingat sekali mereka. Bagi saya, mereka ini adalah guru politik saya sesungguhnya. Mereka ini adalah panggung pengembangan diri saya yang sebenarnya. Mereka inilah lilin-lilin kecil yang menyatu menjadi sebuah mercusuar besar dalam karya hidup saya, sampai dengan titik sekarang. Tuhan sungguh baik. Tuhan pakai mereka untuk bentuk dan ajar saya jadi pemimpin yang baik,” ujar Mo’at Robby Idong sambil menghela nafas berat.
Pemimpin Itu Pelayan, Bukan Majikan
Barangkali prinsip hidup inilah yang terpatri dan ditunjukkan dalam keseharian seorang Moad Robby Idong. Dalam sharingnya, beliau sempat mengupas hakikat dari seorang pemimpin sejati.
“Saya ingat, ketika kecil dulu, kalau disuruh untuk buat apa saja oleh mama, bapa, atau guru-guru di sekolah, pasti saya orang pertama yang menawarkan diri. Saya lakukan itu dengan hati. Dan semakin dewasa, ternyata kharakter itu terus saja melekat dalam diri saya. Itulah kenapa hingga saat ini, ketika saya duduk pada kursi seorang Bupati, saya tidak bisa meninggalkan semuanya. Pemimpin itu pelayan, bukan majikan. Dengan melayani, kita akan semakin besar, bahkan lebih besar dari orang yang kita layani. Kenapa? Karena hati kita akan terus dimegahkan, “ ujarnya.
Dari jawaban demi jawaban ini, saya kemudian berkesimpulan bahwa, ternyata di balik sukses karier seorang Mo’at Robby Idong, beliau sedang memproyeksikan mimpi masa kecilnya dengan realita birokrasi yang sedang dia pimpin saat ini, demi kemaslahatan hidup seluruh masyarakat Nian Tanah Sikka.
Di dalam kepemimpinannya, sesungguhnya Mo’at Robby Idong sedang melakukan 3K secara optimal. 3K artinya koordinasi, kolaborasi dan komunikasi.
Setiap awal tahun anggaran dia selalu melakukan koordinasi melalui rapat atau meeting untuk menetukan rencana dan strategi pengembangan Sikka. Kemudian, ternyata Mo’at Robby Idong juga sangat terbuka memberikan kepercayaan itu kepada stafnya, untuk menerima kepercayaan dan bekerja dengan syarat, harus kolaborasi (bekerjasama). Kemudian dalam proses pelaksanaan itu, Mo’at Robby Idong juga terus memastikan bahwa komunikasi dua arah harus tetap berjalan. Hal ini sebagai upaya untuk melakukan pengawasan sekaligus evaluasi terkait pelaksanaan program-program strategisnya secara internal dan profesioanal.
Bisikan Sang Ibu Tua; Malaikat Tuhan Yang Menjelma di Gelap Malam
Di akhir dari obrolan kami, saya sangat tersentak, ketika Mo’at Robby Idong menutup kisah hidupnya dengan kisah bertemu seorang janda tua di malam hari, di rumahnya. Kisah perjumpaan itu, sungguh dirasakan sebagai sebuah bentuk perjumpaan dengan Tuhan sang pemilik kehidupan. Kehadiran perempuan tua, yang adalah seorang janda di rumahnya di malam hari, benar-benar telah merombak semua pemahamannya tentang hidup, dan bagaimana sebuah kehidupan itu mesti dijaankan. Hidup itu mesti disyukuri. Hidup itu mesti berbagi. Hidup itu mesti saling menghidupkan.
“Saya ingat sekali wajah itu. Seorang ibu tua dengan guratan kesedihan di wajah. Datang dari kampung yang cukup jauh dari kota Maumere dengan pakaian seadanya, mengenakan sarung Sikka, sendal jepit, serta ada beberapa gelang gading yang ada di kedua tangannya, yah…itu yang masih saya ingat.
Dia (sang ibu janda) begitu bahagia dengan pertemuan kami. Tujuan kedatangannya hanya mau menyampaikan ke saya, bahwa bantuan-bantuan pemerintah seperti PKH dan lainnya, tidak pernah ia dapatkan dari desa selama ini. Entah apa alasannya. Sebagai seorang janda tua, sang ibu merasakan benar, betapa berat beban yang harus ia jalani di kampung. Satu sisi, ia harus berjuang untuk bertahan hidup, memenuhi kewajibannya kepada suku, kampung dan negara, namun di sisi lain, ia sama sekali tidak punya apa-apa untuk bertahan.
Saya memeluk si ibu tua erat. Merasakan denyut jantungnya yang berdegub lemah. Ingatan saya sontak mebawa saya ke masa kecil, saya. Hangatnya pelukan mama saya benar-benar terasa sekarang. Yah, serasa yang berada di depan saya adalah mama saya sendiri. Saya mengangkat tangan kanannya dan mencium dengan tulus tangan itu.
Ibu itu kemudian mulai berpesan kepada saya banyak hal. Saya mendengar dengan seksama. Petuah, nasihat dan saran…semuanya saya dengar. Maka jadilah saya seperti sekarang. Sejak itu, saya perintahkan ke semua elemen yang bekerja di rumah jabatan saya. Bahwa siapa saja, entah orang tua, orang muda, anak kecil, ASN, atau siappun itu, ketika datang hendak bertemu saya, jangan haling-halangi. Buka gerbang rumah jabatan Bupati 1x 24 jam untuk seluruh masyarakat Sikka. Sebab untuk mereka saya ada,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.
Sebagai seorang jurnalist, saya sangat merasa bersyukur dan beruntung sekali, bertemu dengan sang Pemimpin yang rendah hati seperti sosok Mo’at Robby Idong. Bukan tentang saya sudah dapat materi pemberitaan seperti apa, tetapi lebih dari pada itu, saya telah mendapatkan materi paling berharga, yakni pelajaran kehidupan. Epang gawang, Mo’at!
Profil Mo’at Robby Idong dan Keluarga
Nama Lengkap : Fransiskus Roberto Diogo,S.Sos,M.Si (Robby Idong)
Tempat Tanggal Lahir : Maumere,01-02-1972
Agama : Katolik
Nama Istri : Maria Cahyani
TTL : Kediri, 20-10-1975
Agama : Katolik
Anak-anak :
- Alexandro Warella Diogo (Sarjana Desain Komunikasi Visual)
- Leonardo Diogo (Dokter Umum)
- Agnes Yulita Monika Diogo (Mahasiswi Kedokteran Gigi Hangtua Surabaya)
- Claudia Justine Diogo (Siswa SDK Bhaktyarsa Kelas VI)
- Nur Hasanah (Anak angkat – Siswa SDK Bhaktyarsa Kelas VI)
- Aprilianus Stivan (Anak angkat – Siswa SDK Bhaktyarsa Kelas VI)
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.










