Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Reses di SMAN 2 Sulamu, Winston Rondo Soroti Ruang Kelas Darurat yang Bertahan Hampir 10 Tahun

Reporter : Ollchan

KUPANG, MENSANEWS.COM – Wakil Ketua Komisi V DPRD Nusa Tenggara Timur (NTT), Winston Neil Rondo, menyoroti kondisi ruang belajar darurat di SMAN 2 Sulamu, Desa Bipolo, Kabupaten Kupang, yang masih digunakan setelah hampir sepuluh tahun sejak sekolah tersebut dirintis.

Sorotan itu disampaikan Winston saat melakukan kunjungan reses hari pertama di SMAN 2 Sulamu, Rabu (21/10/2026). Dalam kunjungan tersebut, ia berdialog dengan siswa, guru, komite sekolah, dan orang tua untuk menyerap aspirasi mengenai kebutuhan fasilitas pendidikan serta berbagai persoalan yang dihadapi sekolah.

“Saya datang dengan kenangan ketika kita bersama-sama membangun sekolah ini. Tetapi saya prihatin, sepuluh tahun kemudian anak-anak masih belajar di ruang darurat yang dahulu kita bangun. Gotong royong masyarakat harus mendapat tindak lanjut melalui pembangunan fasilitas pendidikan yang layak,” ujar Winston.

Baca Juga :  Ditemui Elas Jawamara Atas Perintah Bunda Julie, Kristo: Terima Kasih Bunda Julie

Winston mengaku prihatin karena ruang belajar semi permanen yang dibangun melalui gotong royong masyarakat sekitar 2015–2016 masih digunakan sebagai tempat belajar siswa hingga saat ini.

Saat sekolah tersebut dirintis, Winston mengingat dirinya turut menggerakkan kader-kader Partai Demokrat untuk membantu pembangunan, mulai dari menggali fondasi, mengerjakan kayu, hingga menyediakan semen.

Menurut dia, semangat gotong royong masyarakat harus diikuti dengan langkah nyata pemerintah untuk memastikan siswa mendapatkan fasilitas belajar yang memadai.

Saat ini, SMAN 2 Sulamu melayani 201 siswa yang terbagi dalam sembilan rombongan belajar. Namun, sekolah tersebut baru memiliki dua ruang kelas permanen sehingga masih membutuhkan tujuh ruang kelas yang layak.

Baca Juga :  Gubernur Viktor, Tahun 2020 Pemprov Akan Bangun SMK di Desa Pusu

Dalam dialog bersama siswa, Winston menerima keluhan mengenai kondisi ruang belajar yang panas, atap rendah, serta dinding tipis dan berlubang. Kondisi tersebut diperparah oleh suara pembelajaran dari kelas lain yang mengganggu konsentrasi siswa.

Salah seorang siswi, Carla Ndatang, menyampaikan bahwa kondisi ruang kelas membuat siswa kesulitan belajar dengan nyaman. Situasi semakin terasa ketika suhu ruangan mulai panas sekitar pukul 10.00, sementara kegiatan belajar mengajar masih berlangsung.