Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Satu Jam Bersastra Bersama Bung Darko Di Bumi 7 Maret

SATU JAM BERSASTRA

Bung Darko juga menambahkan, bahwa seorang sastrawan tidak dilahirkan secara instant. Melainkan melalui proses pematangan yang sangat lamah dan terus menerus.

“Mulailah dari sekoarang. Jangan tunggu esok. Tepat pada saatnya, kalian akan seperti saya yang berdiri di depanmu saat ini. Artinya, saya menulis sejak berusia sepertimu. Proses yang lama, bukan? Jadi ayo, mulailah menulis dari sekarang. Manfaatkan hari-hari indahmu di sekolah dengan menulis, termasuk bersastra,” tutup Bung Darko.

Sementara itu Kepala SMPN 7 Maret Hadakewa, Frans B.K.Kaona, S.Fil mengungkapkan kegembiraannya tersendiri menerima kehadiran Bung Darko sebagai sastrawan terkenal di Pulau Lembata saat ini.

Baca Juga :  Indosat Ooredoo Hutchison dan Cisco Luncurkan Sovereign Security Operations Center: Tonggak Baru Keamanan dan Ketahanan Digital Indonesia

“Ini moment yang sangat luar biasa. Kami sangat senang, Bung Darko bisa datang ke sekolah kami yang memang sangat getol menggelorakan program literasi dalam berbagai giat yang menarik dan mendukung perkembangan bakat siswa di bidang tulis menulis. Selanjutnya, seluruh waktu saya serahkan ke Bung Darko. Silahkan jadikan ruangan ini menjadi lautan sastra dalam moment berharga satu jam bersamamu,” ujarnya.

Pernyataan Kepala Sekolah Frans Kaona tersebut sangat berdasar. Sebab menurut pantauan media, SMPN 7 Maret Hadakewa di bawah kendali beliau, ternyata sangat respons dan mendukung semua kegiatan-kegiatan terkait literasi di sekolah. Banyak piagam penghargaan terkait literasi di tingkat Nasional, Provinsi maupun di tingkat Kabupaten telah berhasil disabet. Terbaru, Kepsek Frans Kaona memberlakukan penerapan program “Satu Kelas Satu Media”, guna mendukung minat dan perkembangan warga sekolah dalam dunia tulis-menulis, termasuk sastra.

Baca Juga :  Sukses Lakukan Assesment Diagnostik, Yuni Lilasnyo : Ini Fase Paling Krusial Yang Wajib Dijalankan Seorang Pendidik

“Program terbaru kita adalah, Satu Kelas Satu Media. Mungkin terdengar agak besar, tetapi praksisnya adalah saya menyiapkan satu mading dengan segala fasilitasnya. Setiap wali kelas bersama seluruh siswa di kelas, wajib menjadi kontributornya. Tema tulisan akan disesuaikan  dan berbeda untuk setiap bulan. Hasil dari publikasi bulanan warga sekolah melalui media ini, akan dipersiapkan untuk diluncurkan menjadi buku-buku terbaik karya siswa dan guru. Ini harus jadi budaya di sekolah ini,” tegas Frans.